9 Agu 2013

Anda Masuk Kategori Pembuat Agama Juga

Ada pertanyaan: "Yang ngangkat Yesus jadi Tuhan siapa yah?"

Joko Tingtong jawab: Sama seperti yg mengangkat Allah menjadi Tuhan.

Kalau anda bilang Allah adalah Tuhan anda, berarti andalah yg mengangkat Allah menjadi Tuhan. Tidak semua orang mengangkat Allah menjadi Tuhan. Hanya yg mau saja. Anda mau mengangkat Allah menjadi Tuhan merupakan pilihan. Mayoritas manusia di dunia ini tidak mengenal Allah sebagai Tuhan. Allah cuma dikenal di negara-negara yg mendapat pengaruh bahasa Arab.

Gunakan logika anda. Anda diajarkan bahwa Allah itu Tuhan. Lalu anda mengakuinya, artinya anda mengangkat Allah menjadi Tuhan. Bukan berarti Allah adalah Tuhan sejak asal mula, walaupun seperti itu kisahnya. Ada kisah yg menceritakan Allah sudah ada sejak awal. Tetapi itu cuma kisah. Perlu pengakuan. Perlu pengangkatan. Kalau anda mengakui, artinya anda mengangkat Allah menjadi Tuhan. Apakah benar ada Allah sebagai Tuhan tentu saja soal lain. Faktanya cuma satu, anda mengangkat Allah menjadi Tuhan. Yg bisa dihitung adalah fakta pengakuan itu. Sedangkan Allah sebagai Tuhan tidak bisa dihitung. Tidak bisa dibuktikan. Tidak bisa diukur. Itu cuma konsep abstrak yg adanya di dalam pikiran manusia.

Kita sudah sampai pada pengertian bahwa semua agama dan kepercayaan adalah hasil budaya manusia. Dibuat di tempat dan masa tertentu. Dibuat oleh manusia. Bisa pakai simbol Allah, Tuhan, Dewa Dewi. Bisa pakai simbol Leluhur. Segala macam simbol valid dipakai. Dan memang perlu pengakuan. Makanya dibuatlah syahadat. Syahadat artinya pengakuan iman. Dibuat oleh manusia juga, dan tidak muncul begitu saja. Seperti ayat-ayat, syahadat juga dibuat oleh manusia. Makanya kalau ada yg tanya siapa yg mengangkat Yesus menjadi Tuhan, maka dengan mudahnya Joko akan jawab. Joko jawab, yg mengangkat Yesus menjadi Tuhan adalah manusia. Sama seperti yg mengangkat Allah menjadi Tuhan. Manusia juga. Kita bisa diskusikan yg seperti ini, yaitu asal-usul pembuatan agama dan kepercayaan. Sejarah perkembangannya.

Buktinya berupa fakta-fakta historis bisa dicari.
Ada lagi fakta subyektif yg disebut iman. Itu juga bisa dibicarakan, tetapi hendaknya dimengerti bahwa realitanya cuma ada di dalam pikiran si manusia sendiri. Bukan realita fisik. Kalau kita mau memaksakan Allah kita sebagai pencipta dunia, kita akan menjadi seperti garong. Kita bilang bahwa dunia ini milik Allah kita, dan kitalah yg harusnya menjadi penguasanya. Orang-orang yg tidak percaya Allah harus kita buat mengerti bahwa mereka orang kafir. Itu kelakuan sebagian orang sampai detik ini. Namanya orang yg tidak punya kesadaran. Tidak sadar bahwa Allah itu buatan, hasil olah pikir manusia masa lalu, yg diteruskan sampai saat ini, karena dianggap membawa manfaat. Yg tidak mau diakui orang-orang itu adalah kenyataan yg sama jelasnya, yaitu korban agama dan kepercayaan juga sudah tidak terhitung. Dari jaman dahulu sampai sekarang. Banyak orang sudah tobat menjadi korban agama yg diwariskan turun-temurun, apalagi yg mengharamkan penggunaan akal pikiran.

Pedahal agama itu sendiri dibuat menggunakan akal pikiran.

Ada kontradiksi disini, yaitu antara mereka yg ingin menguasai orang lain demi keuntungan pribadinya, dan mereka yg sudah sadar tidak mau lagi menjadi budak. Kalau sudah tidak mau lagi menjadi budak, mau tidak mau manusia harus berpikir. Tanpa kemampuan berpikir, perbudakan manusia akan langgeng. Sudah seperti itu selama ribuan tahun. Sejak umat manusia ada di muka bumi. Dan baru mulai terlepas satu persatu sejak abad pencerahan di benua Eropa. Namanya renaissance, kebangkitan ruh manusia sehingga mulai berani berpikir bagi dirinya sendiri. Tadinya tidak mau berpikir dengan alasan semuanya sudah diberikan oleh Tuhan di dalam kitab suci. Sejak manusia mulai berpikir, agama mulai mundur. Terdesak oleh bukti-bukti bahwa ternyata ayat-ayat itu buatan manusia masa lalu. Bisa salah juga. Dulu orang kaget ketika pertama-kali menemukan kesalahan kitab suci. Sekarang orang tidak kaget lagi. Karena memang dibuat oleh manusia, makanya wajar saja kalau ada kesalahan. Banyak malahan. Dan kita tidak perlu heboh lagi ketika menemukan ada kesalahan di dalam kitab suci. Karena dibuat oleh manusia, wajar saja kalau mengandung kesalahan.

Semua Tuhan itu diangkat. Tidak ada yg mengangkat dirinya sendiri kecuali di dalam ayat-ayat. Itu pernyataan biasa saja. Mereka yg sudah menemukan kesadaran tahu bahwa memang seperti itulah faktanya. Mereka yg belum mencapai kesadaran tauhid tidak tahu. Mereka pikir, memang ada Tuhan di atas langit sana yg menghitung amal ibadah manusia. Mereka tidak tahu, bahwa amal ibadah merupakan konsep buatan manusia. Seolah-olah Allah menghitung amal ibadah, pedahal yg menghitung mungkin cuma si manusia itu sendiri saja. Manusianya menghitung dia punya amal ibadah sendiri, dengan niat masuk Surga.

Kalau anda bilang Allah begini atau Allah begitu, artinya anda masuk dalam kategori pembuat agama. Seperti itulah agama dibuat, ada orang yg bilang bahwa Allah begini atau Allah begitu. Bukan tiba-tiba Allah muncul ke hadapan manusia dan bilang sendiri. Tidak begitu faktanya. Faktanya, selalu ada manusia yg mengisahkan tentang Allah. Ketika anda mengisahkan tentang Allah, namanya anda sedang membuat agama. Lalu anda meminta agar orang lain juga ikut percaya kepada Allah. Anda masuk kategori pembuat agama juga.

Bukan berarti agama tidak membawa manfaat, manfaatnya ada juga, tetapi tidak seragam. Bahkan di satu masyarakat yg homogen menganut satu sistem kepercayaan. Masyarakat manusia berkembang terus. Apa yg dianggap benar di masa 100 tahun lalu sekarang dianggap kedaluwarsa. Kalau orang ikut itu kepercayaan, sekarang bisa mati berdiri. Daripada mati berdiri, lebih baik orang mati tidur. Kebanyakan orang memilih untuk mati tidur, dan bukan berdiri. Makanya mereka mulai berpikir. Sedikit demi sedikit mengumpulkan bukti-bukti bahwa agamanya memang dibuat oleh manusia masa lalu. Tadinya ragu, lama-lama mulai yakin. Ketika sepenuhnya telah yakin bahwa keyakinannya dibuat oleh manusia lain, maka lengkaplah pembebasannya. Itulah yg namanya kemerdekaan spiritual.





(Leonardo R.)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar