7 Nov 2014

Bukan Harus Beragama

Kitab-kitab spiritual warisan budaya umat manusia jumlahnya ribuan. Termasuk agama, filsafat dan psikologi. Dari berbagai macam aliran. Luar negeri dan dalam negeri. Nasional maupun lokal. Lalu apakah harus saya membahasnya? Tentu saja tidak. Sekarang November 2014. Para penulisnya saja iri dengan kita, yg hidup di penghujung waktu. Kenapa kita harus mempelajari dunia dari mata mereka yg hidup ribuan, ratusan atau paling tidak puluhan tahun lalu? Tidak perlu sombong, tapi memang itu alasannya. Anda sudah jauh lebih canggih. Tidak perlu minder.

 

Bukan Harus Beragama

oleh Leonardo R.

Kitab-kitab spiritual warisan budaya umat manusia jumlahnya ribuan. Termasuk agama, filsafat dan psikologi. Dari berbagai macam aliran. Luar negeri dan dalam negeri. Nasional maupun lokal. Lalu apakah harus saya membahasnya? Tentu saja tidak. Sekarang November 2014. Para penulisnya saja iri dengan kita, yg hidup di penghujung waktu. Kenapa kita harus mempelajari dunia dari mata mereka yg hidup ribuan, ratusan atau paling tidak puluhan tahun lalu? Tidak perlu sombong, tapi memang itu alasannya. Anda sudah jauh lebih canggih. Tidak perlu minder.

Anda tidak menghargai diri sendiri karena seperti itulah yg diajarkan kepada anda. Anda dibilang berbudaya kafir dan sekarang harus mengikuti budaya labil atau saling berperang memperebutkan stempel Allah. Siapa yg pegang itu stempel akan menjadi penguasa dunia atau lebih tepatnya menjadi penunggang orang-orang Yahudi sehingga keuangan dunia akan masuk dompet organisasi keagamaan anda. Tentu saja dongeng. Yg sayangnya cukup banyak dipercaya. Kalau anda pakai hati, anda tidak perlu berpikir. Cukup percaya saja. Namanya keyakinan atau iman. Perlu iman untuk menerima barokah menjadi penguasa dunia. Walau bukan anda yg ditakdirkan pegang stempel penguasa dunia. Anda cukup pegang botol tinta. Stempelnya dipegang oleh pusat. Anda cukup beribadah dan beramal. Dan bertahan pakai hati. Begitu skenario Allah.

Sebaliknya, agama-agama di belahan dunia Timur seperti Indonesia tidak mengenal mutlak-mutlakan. Kalau anda percaya kepada leluhur atau Dewa Dewi Hindu, tidak dilarang bagi anda untuk juga percaya kepada para Buddha. Tidak juga dilarang untuk percaya kepada Yesus atau siapapun namanya yg datang dari Timur Tengah. Makanya agama-agama dari Barat seperti Islam dan Kristen bisa begitu mudah masuknya. Tadinya dikira cuma pemikiran baru. Dan terutama teknologi baru. Ternyata setelah masuk akhirnya mempraktekkan monopoli. Kolonialisme atau penjajahan. Kepercayaan lama diharamkan, dan harus mutlak pakai kepercayaan baru. Nasi sudah jadi lemper, tidak bisa jadi beras lagi. Otak sudah dicengkeram dengan adzab Allah, baik dari jenis Islam maupun Kristen. Karena ketahuilah, Allah bukan cuma ada di Islam saja. Kristen juga pakai Allah. Malah lebih dulu. Sudah pakai Allah ratusan tahun sebelum Islam. Dan karena sejak beberapa ratus tahun terakhir ini teknologinya lebih maju, maka Kristen lebih tidak toleran terhadap praktek-praktek warisan leluhur. Anda masih bisa menggabungkan Islam dengan ajaran kuno Jawa, menjadi Kejawen. Tapi tidak bisa dengan Kristen. Kalau Kristen namanya bukan Kejawen, tapi Kejawon. Mungkin. Tidak perlu dibuat, apalagi pakai hipnotis.

Saya tidak pakai hipnotis karena Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung sudah meninggalkannya sebelum orang-tua anda lahir. Terbukti tidak efektif untuk menyembuhkan gangguan jiwa. Sebagai gantinya digunakan teknik konseling, penafsiran simbol bawah sadar, dan penelusuran alam pikiran manusianya sendiri. Konselor seperti saya cuma menjadi sparing partner. Rekan berbagi. Anda yg menyembuhkan diri anda sendiri. Bisa pakai Allah, bisa juga tidak, tergantung jenis kepercayaan apa yg mau anda pakai. Saya cuma memandu saja. Karena saya tahu yg bekerja adalah alam pikiran anda sendiri. Mau pakai agama apapun tetap saja yg bekerja alam pikiran anda. Mau pakai Allah ataupun tidak, tetap saja alam pikiran anda bisa bekerja. Tidak ada bedanya. Dewa Dewi dan Allah cuma simbol yg digunakan oleh anda untuk berkomunikasi. Bisa membantu meluruskan cara anda memandang yg selama ini digoyang tanpa henti oleh lingkungan. Dimulai dari orang tua yg menjajah anda. Keluarga dekat. Masyarakat luas. Anda dijajah tapi dipaksa untuk bilang anda bebas. Makanya jiwa anda sakit. Terlihat dari gejala yg anda tampilkan seperti menjadi fanatik. Atau jadi lebay. Atau jadi gila hormat. Atau jadi rendah diri. Semuanya hasil akhir penjajahan pikiran anda oleh manusia lain. Bisa anda buang siksa itu dan menjadi manusia bebas. Kalau anda mau jujur. Melihat ke dalam diri dan mengambil keputusan. Sebagai manusia dewasa anda tidak perlu hipnotis.

Tidak perlu juga pakai afirmasi. Afirmasi berasal dari bahasa Inggris, affirmation. Penegasan. Seolah-olah selama ini kurang tegas, sehingga harus ditegaskan berkali-kali. Misalnya kata saya bahagia, diulang 1000 X. Atau asma Allah, diulang 10,000 X. Orang pikir yg bekerja adalah kata-katanya. Menurut saya tidak. Yg bekerja adalah fokus anda. Pikiran anda fokus ketika mengucapkan afirmasi, dan itulah yg bekerja. Jadi, anda mengucapkan sejuta kali nama Tuhan atau sejuta kali nama Setan tidak akan menjadi masalah selama pikiran anda fokus. Kalau anda fokus, anda bisa bekerja. Bisa melihat sudah sampai mana pekerjaannya. Dan apa yg harus dilakukan berikutnya. Bukan harus beragama.

Indonesia diagamakan oleh rezim Orde Baru dengan konsepsinya tentang agama resmi dan agama liar. Mulailah pencantuman kolom agama di dalam KTP. Tadinya tidak seperti itu. Kenapa jadi begitu? Karena ada ancaman komunisme dari benua Asia. Dianggap agama menjadi benteng terhadap komunisme. Setelah komunisme tumbang dan Tiongkok menjadi negara terkaya di dunia karena memiliki tabungan US $ paling banyak, maka Indonesia memble. Yg beragama menjadi terpuruk hidup di neraka, dan yg komunis menjadi kaya raya hidup di surga. Tapi cuma bisa dimengerti oleh anda yg cerdas. Tahu bahwa surga neraka cuma istilah saja. Gunanya untuk menangkap jiwa anda. Anda akan didata sumbangannya berapa, setelah itu ditentukan berapa dekat tempat anda di sisi Allah. Bukan itu saja dosa Orde Baru, melainkan juga pemaksaan pernikahan seagama. Warganegara dipaksa beragama. Dan beragama resmi saja. Dan menikah seagama saja. Maksudnya supaya anda bisa dikontrol oleh pengurus agama. Dan pengurus agama dikuasai oleh negara. Begitu skenarionya. Silahkan anda pelajari sendiri sejarah ini. Tidak usah mengkhayal.

Negara bukan manusia, tidak bisa beragama. Membawa-bawa agama dalam kehidupan kemasyarakatan terbukti menguntungkan segelintir orang yg menempatkan dirinya sebagai wakil Tuhan. Rasul Tuhan. Rasulullah. Padahal setiap orang adalah rasulullah bagi dirinya sendiri. Kalau anda menjadi rasulullah, anda disebut yg terpuji. Manusia yg terpuji. Terpuji apanya? Bukan terpuji agamanya tetapi kelakuannya. Anda bisa dipuji karena terbukti suka blusukan, dan tidak bermain pencitraan. Anda tidak korupsi walaupun kesempatan tersedia. Anda tidak sesumbar mau digantung di Monas, padahal maksud anda di pohon toge. Tidak begitu. Anda terpuji karena nama anda Pujiastuti. Kalau laki-laki, nama anda Pujiastuto.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar