Saya pernah tulis bertahun-tahun
lalu bahwa atheisme adalah puncak spiritualitas manusia, kata Joko Tingtong.
Itu benar, yaitu atheist yg tahu
bahwa segalanya konsep, dan bisa didaur ulang menjadi bentuk yg lebih relevan.
Yesus mendaur ulang sistem kepercayaan Yahudi dan menjadi Kristus. Siddharta
Gautama mendaur ulang sistem kepercayaan India dan menjadi Buddha. Jadi, bukan
atheist yg tidak mengerti bahwa segalanya simbol. Agama berisikan simbol, bisa
didaur ulang. Kalau anda sudah mengerti itu, anda menjadi Kristus juga. Menjadi
Buddha. Kristus dan Buddha juga cuma simbol belaka. Konsep yg adanya di kepala
manusia.
Muhammad juga mendaur ulang sistem kepercayaan Quraish, my friends. Kalau anda bisa mendaur ulang sistem kepercayaan di masyarakat anda yg sudah tidak relevan lagi, anda menjadi Muhammad.
Ada lagi tentang debat agama di
facebook.
Setahu saya, peserta debat itu boleh
bilang semuanya berasal dari kalangan Islam sendiri. Bukan dari Kristen.
Kristen tidak tertarik dengan Islam. Dari dulu sampai sekarang, orang Kristen
tidak pernah tertarik membahas Islam. Itu pengalaman pribadi, saya bagikan,
bukan untuk didebatkan. Segala macam complaint tentang agama import juga
berasal dari kalangan Islam sendiri. Orang Kristen tidak pernah complain agama
import. Hindu dan Buddha juga tidak pernah complain soal import-mengimport...
sapi.
Anda mau beragama apapun tidak masalah buat saya, lanjut Joko Tingtong. Tidak beragama juga tidak masalah. Anda mau berbagi sudah tidak percaya agama anda juga tidak masalah. Kita berbagi. Dasarnya adalah pengalaman spiritual pribadi, bukan katanya. Bukan mendebatkan dongeng 1001 malam, melainkan membagikan pengalaman nyata. Berlaku bagi orangnya sendiri, walaupun belum tentu berlaku bagi orang lain.
Yg sangat tertarik membicarakan Kristen adalah orang Islam. Orang Kristen sendiri boleh bilang sama sekali tidak tertarik membicarakan Islam. Aneh tapi nyata. Keanehan lain, debat Islam itu boleh bilang antara sesama orang Islam sendiri. Bisa saja mengaku seolah-olah orang Kristen, tetapi jelas terlihat bahwa yg debat-mendebat itu ternyata sesama penganut Islam sendiri. Anda bisa buktikan lewat riset ilmiah, bahwa orang Kristen di Indonesia sama sekali tidak tertarik membicarakan Islam. Bukannya tidak perduli, tetapi tidak tertarik. Lembaga-lembaga keagamaan Kristen di bidang sosial membantu semua orang tanpa perduli agama. Buddha juga begitu. Tapi kalau sudah membahas tentang Islam sebagai agama, tidak ada yg tertarik. Membantu secara sosial ya, tetapi membahas tidak mau. Yg rajin membahas Kristen justru kalangan Islam, mungkin ingin tahu caranya kenapa Kristen bisa berhasil. Mungkin kiatnya cuma satu, yaitu tidak usil.
Urus diri masing-masing dan tidak
usil. Baru bisa jadi kaya.
Tentu saja tidak mutlak. Ini pengamatan umum. Secara umum orang Kristen tidak tertarik dengan Islam. Sama sekali tidak tertarik, dari dulu sampai sekarang. Group debat-debat agama itu isinya antara Islam dan Islam. Umumnya begitu. Orang-orang Kristen tidak tertarik begituan. Aneh tapi nyata.
Tentu saja tidak mutlak. Ini pengamatan umum. Secara umum orang Kristen tidak tertarik dengan Islam. Sama sekali tidak tertarik, dari dulu sampai sekarang. Group debat-debat agama itu isinya antara Islam dan Islam. Umumnya begitu. Orang-orang Kristen tidak tertarik begituan. Aneh tapi nyata.
Ada pula group-group Kristen. Yg berdebat disini sesama orang Kristen sendiri. Joko sama tidak tertariknya. Saya suka posting artikel, kata Joko Tingtong, tapi tidak mau ikut-ikutan debat. Ngapain debat ayat? Tentang apa yg Yesus maksud?
Apa yg dimaksud Yesus is not my
business gitu lho!
Ada lagi group-group spiritual dari aliran Kejawen. Isinya delusional. Klenik dan delusional. Terkena waham. Umumnya anti Islam. Ada lagi group-group sufi. Asyik sendiri. Orang sufi tidak suka mendebat. Sufi yg asli sama seperti saya, kata Joko Tingtong lagi. Sukanya berbagi saja, walaupun kadang-kadang judes.
Saya judes dan galak.
Ada pula group-group atheist.
Macam-macam. Semuanya sah saja.
Joko Tingtong tidak suka berdebat,
sukanya berbagi. Berbagi pengalaman spiritual pribadi. Joko merasa heran, boleh
bilang tidak ada orang Indonesia lainnya yg bisa berbagi pengalaman spiritual
pribadi. Tidak berani berbagi di tempat umum. Beraninya berbagi secara
tertutup, lewat inbox atau email. Kebanyakan lelaki, walaupun ada juga yg
perempuan. One on one service. Private Teacher.
Seperti ini, seorang teman bertanya lewat inbox:
Mas Joko, mohon tanya, yang bikin
kita hidup dan bernapas, serta berpikir juga, terus juga kadang ingin punya ini
itu, macem-macem itu apaan seh? Apa roh, apa energi ato apaan seh, kok kita
bisa hidup? Moga-moga berkenan menjawab yg jawabane tidak bikin saya malah
tambah binun, mohon pencerahan soale aku mikir kok nggak nemu-nemu ya.
Dan Joko menjawab:
Pertanyaan anda adalah apa yg
ditanyakan oleh berbagai aliran filsafat itu. Filsafat Yunani mengasumsikan ada
berbagai macam emanasi dari ide yg utama, katakanlah namanya Allah. Dari Allah
yg pertama itu lalu muncul Allah kedua, Allah ketiga, dan berbagai macam Allah,
tak terhingga. Pemikiran filsafat Yunani mempengaruhi pemikiran keagamaan
Yahudi, Nasrani dan Islam. Pengertian dasarnya, kita ada karena kita ada, dan
kita merupakan bagian dari keseluruhan itu, tak terpisahkan.
Karena ada yg tetap itu, maka kita
ada. Diasumsikan yg tetap namanya Allah, sudah ada sejak awal, dari situ turun
temurun menjadi umat manusia yg sekarang. Sejajar antara Allah dan manusia.
Manusia beranak-pinak secara fisik. Lewat hubungan seks. Ide tentang Allah
beranak-pinak lewat kesadaran.
Manusia yg sadar bisa bilang ada Allah. Walaupun istilahnya macam-macam. Dalam bahasa Yunani disebut Logos. Kita tahu, dari kata logos akhirnya muncul kata logika. Jalan pikiran yg sesuai logos atau kesadaran manusia disebut jalan pikiran yg logis. Kalau tidak sesuai logos atau kesadaran yg ada di manusia, namanya tidak logis.
Manusia yg sadar bisa bilang ada Allah. Walaupun istilahnya macam-macam. Dalam bahasa Yunani disebut Logos. Kita tahu, dari kata logos akhirnya muncul kata logika. Jalan pikiran yg sesuai logos atau kesadaran manusia disebut jalan pikiran yg logis. Kalau tidak sesuai logos atau kesadaran yg ada di manusia, namanya tidak logis.
Kalau dewa-dewi Hindu, mereka
merupakan simbol dari berbagai macam pembelajaran. Dewa Siwa adalah simbol dari
kesadaran manusia. Shakti pasangan Siwa adalah simbol dari energi manusia.
Ganesha adalah simbol dari pengetahuan yg disini dilihat sebagai turunan dari
kesadaran. Ketika kesadaran utama tidak bisa menghalau kebathilan, maka
turunannya berupa pengetahuan ternyata bisa.
Pengetahuan disimbolkan oleh
Ganesha.
Di Jawa, berbagai mitologi
menyimbolkan hal-hal yg sama. Begitu pula di Bali dan berbagai komunitas etnik
lainnya di Indonesia. Mitologi atau legenda merupakan penjelasan dengan bentuk
narasi yg menggunakan berbagai macam simbol. Kisah para nabi juga merupakan
bagian dari mitologi karena ada simbol yg digunakan, dan ada hikmah atau
pengetahuan yg bisa juga diambil dan diterapkan oleh mereka yg percaya.
Kalau anda mempelajari psikologi
(ilmu jiwa), maka penjelasannya tentu akan sedikit berbeda. Psikologi juga
memiliki berbagai aliran, dan saya biasanya memakai pengertian dari Carl Gustav
Jung yg melihat bahwa segalanya itu merupakan simbol belaka yg asalnya dari Collective
Unconscious dengan mana semua manusia hidup maupun yg pernah hidup selalu
terhubung.
Diasumsikan selalu terhubung.
Sigmund Freud beda lagi, dia
berkesimpulan bahwa segala apapun yg dilakukan oleh manusia merupakan manifestasi
dari hasrat yg ditekan sejak masa kanak-kanak. Untuk menjadi manusia sehat
jasmani dan rohani, maka hasrat yg tertekan itu harus dikeluarkan dan tidak
perlu disublimasikan atau disamarkan dalam bentuk agama yg takut pada
seksualitas wanita, misalnya.
Seksualitas itu netral, dan kalau
ditekan maka akan muncul menjadi fenomena sosial berupa diskriminasi terhadap
jenis kelamin tertentu seperti terjadi di masyarakat relijius yg masih
terbelakang di masa lalu, dan bahkan sampai saat ini juga. Kalau tentang
dorongan-dorongan hormonal, tentu saja kita semua sudah mengerti. Hormon seks
kita bisa naik dan kita akan merasa jatuh cinta dan tidak bisa hidup tanpa si
dia. Pedahal yg naik itu cuma produksi homon seks saja, dan kalau dikeluarkan
sendiri atau berdua akan bisa melegakan sesaat, sampai muncul lagi dorongan
gairah di saat berikutnya.
Dan semuanya ini berasal dari
kesadaran kita saja. Kalau kita tidak sadar, kalau kita tidak ada, maka
semuanya itu tidak akan ada. Jadi, bukan segala macam agama itu yg datang
duluan atau harus didahulukan seperti kehendak para ulama, melainkan diri kita
sendirilah yg merupakan asal muasal dari segala macam teori itu, baik teori yg
berasal dari agama, tradisi maupun ilmu pengetahuan.
Diri kita dan berbagai dorongannya
yg memunculkan berbagai macam penjelasan, baik dari agama maupun dari ilmu
pengetahuan.
Sekarang sebagian orang telah bisa
melepaskan diri dari penjelasan keagamaan yg sudah kedaluwarsa dan dengan
senang hati beralih kepada penjelasan ilmu pengetahuan: biologi, psikologi,
kedokteran, sosiologi, anthropologi. Ada macam-macam cabang ilmu pengetahuan yg
semuanya berkembang terus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar