Tampilkan postingan dengan label Joko T.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joko T.. Tampilkan semua postingan

18 Jan 2015

Joko Tingtong dan Lukisan Walter Spies yg Hilang


 
 
Barusan Joko Titong menulis tentang Tari Kecak, dan tiba-tiba ingat tentang koreografernya, seorang bule, warganegara Jerman. Kecak digubah oleh satu orang Bali, dan satu orang bule. Bulenya bernama Walter Spies, seniman serba bisa, yg mati di tahun 1942 ketika kapal yg mengangkutnya karam kena torpedo Jepang.

Joko ada lukisan karya ini bule. Mau saya sumbangkan untuk rakyat Bali, kata Joko. Untuk disimpan di museum saja. Tapi tidak ada yg berani otentifikasi. Pedahal jelas ini lukisan asli, tidak bisa ditiru. Tekniknya lain dari yg lain. Mungkin dibuat di Sumatra, ketika dalam interniran Belanda, dibuat berdasarkan foto-foto yg dibuatnya sendiri di Bali. Itu lukisan penari Janger. Oleh Walter Spies, ranking paling atas dari semua pelukis asing yg pernah dan masih ada di Bali. Lukisan Walter sekarang ada di kamar tidur saya, bersama beberapa lukisan kuno lainnya berobyek Bali, kata Joko. Semuanya oleh orang bule. Mungkin seram buat orang-orang lain, untuk tidur bersama lukisan-lukisan kuno yg semua pelukisnya sudah mati. Joko tidak merasa seram.
Pada akhir tahun 1999, Joko berkenalan dengan seseorang di Jakarta yg memiliki sebuah lukisan tua warisan dari orang-tuanya. Lukisan yg dimaksudnya terbuat dari cat minyak di atas kanvas, berukuran 55 cm x 45 cm, dengan obyek seorang penari Bali. Itu namanya penari Janger, baru diketahuinya dari buku Dance and Drama of Bali (1938) karya Walter Spies dan Beryl de Zoete. Buku ini memuat foto-foto tarian Bali tradisional yg dibuat oleh Walter Spies dan penjelasannya dituliskan oleh Beryl de Zoete. Di dalam buku itu, Joko melihat foto seorang penari Janger yg menurutnya mirip sekali wajahnya dengan penari Janger yg menjadi obyek di dalam lukisan yg diperolehnya.
Waktu baru diperolehnya, lukisan itu juga sobek di sebelah kiri atas di bagian yg kosong, sobekan mana telah dijahit dengan benang biasa saja pada saat itu. Kanvasnya tebal sekali seperti terpal, dan robeknya sepanjang sekitar 3 cm. Lukisan itu kemudian dibawanya ke seorang restorator lukisan. Robek sepanjang 3 cm itu kemudian ditambal sehingga sekarang tidak kelihatan dari arah depan. Tetapi bekas rusak itu tetap ada, dan bisa dilihat di belakang lukisan. Di belakang lukisan terdapat sebuah sketsa berbentuk semacam rumah gadang atau rumah adat Sumatra. Sketsa ini dibuat seperti ditorehkan dengan pisau di kanvas yg sangat tebal itu.

Dari restorator lukisan itu, Joko juga belajar bahwa segala sapuan cat yg ditambahkan belakangan ke suatu lukisan cat minyak setelah lukisan itu jadi akan rontok dengan sendirinya ketika lukisan dibersihkan dengan larutan kimia bernama toluene. Toluene digunakan di depan Joko untuk membersihkan lukisan Janger ini, dan ternyata lukisan itu tetap tidak berubah. Segala kotorannya rontok, tetapi tanda tangan di sebelah kiri bawah bertuliskan W. Spies tetap tidak terpengaruh.

Yg tetap ada hanyalah bekas-bekas gosokan dengan kain yg jelas terlihat di kiri bawah lukisan. Bekas ini menyebabkan kanvas menjadi sedikit berubah, agak melesak ke dalam, dan tidak bisa diperbaiki. Gosokan yg dibuat sendiri oleh pemilik sebelumnya. Ada yg mau bayar ini lukisan asal tanda-tangannya hilang. Pemilik lukisan itu sedang menggosok-gosok tanda-tangan di lukisannya dengan kain lap waktu Joko datang. Joko tanya, untuk apa? Ternyata ada yg mau beli. Dikiranya itu tanda-tangan tempelan, sehingga kalau digosok-gosok bisa rontok sendiri. Tentu saja tidak bisa. Tanda-tangannya asli. Joko tahu ini lukisan orisinil, walaupun saat itu belum dibawa ke lab. Lukisannya langsung Joko ambil saat itu juga, di tahun 1999, puncak Krismon. Walaupun Joko tidak punya uang, dia ambil juga. Barter dengan banyak barang.
Sampai saat ini, masih banyak yg mengasosiasikan Walter Spies dengan lukisan berjudul Calon Arang. Lukisan itu berada di Museum ARMA, Bali, dan berukuran 55 x 45 cm, sama persis dengan ukuran lukisan Janger yg ada di Joko Tingtong. Bedanya, lukisan Calon Arang bertemakan mitos dan berobyek manusia yg ukurannya tidak proporsional. Lukisan yg ada di Joko proporsional, dan sangat realistis. Orang pikir itu bukan gaya Walter Spies. Pada tahun 2001 diadakan pameran lukisan 100 tahun Sukarno di Jakarta. Di pameran itu Joko melihat lukisan-lukisan karya W Spies yg menurutnya satu genre dengan lukisan yg dimilikinya, yaitu realistis dan proporsional. Ada yg judulnya Javanese Dancers of the 9th Century dan Village Life in the Age of Borobudur. Keduanya koleksi Presiden Sukarno, tidak pernah dipamerkan kepada umum sebelumnya. Sekarang disimpan di beberapa istana negara.Lukisan Janger yg ada di Joko Tingtong aslinya tidak divernis. Setelah bagian yg robek direstorasi, Joko mencoba-coba untuk membersihkan sendiri lukisan itu dengan toluene. Ternyata masih bisa dibersihkan lagi sehingga warnanya menjadi lebih muda. Tetapi tidak diteruskannya karena terlalu melelahkan. Sekaligus takut lukisan menjadi rusak. Akhirnya disapukannya saja vernis merk Winsor. Akibatnya, lukisan susah sekali difoto karena vernis akan memantul.
Pada awal tahun 2011, Joko bawa lukisan ini untuk dicek di Centre for Cultural Materials Conservation, University of Melbourne, Australia. Dengan berbagai peralatan canggih yg ada di laboratorium itu, Joko bisa melihat sendiri di layar monitor bahwa lukisan ini tunggal, tidak ada lapisan-lapisan lain. Semua catnya asli. Yg menarik,di  bagian belakang lukisan, ternyata bukan hanya rumah tradisional Sumatra saja yg menjadi obyek dari sketsa itu, melainkan juga berlapis-lapis pemandangan pegunungan, seperti biasanya kita lihat di banyak lukisan Spies. Yg jelas, ahli disana tahu bahwa ini lukisan asli. Memang lukisan tua, berasal dari sekitar tahun 1930-1940. - Di Indonesia sendiri justru runyam. Para ahli senilukis Indonesia ternyata sudah dibooking oleh rumah-rumah lelang. Untuk minta diperiksa saja harus bayar Rp 1 juta. Membuatkan surat keterangan Rp 5 juta  Waktu Joko bawa lukisan ini ke salah satu museum di Bali, pemilik museum tertarik ingin beli. Joko jelaskan, dia bukan mau jual, tapi mau kasih untuk rakyat Bali, asal ada yg mau otentifikasi. Dan itu jatuh ke kuping yg budeg, atau membudegkan diri. Orang cuma lihat nilai dollarnya, atau rupiahnya. Keuntungan yg akan mereka peroleh kalau bisa menggaet lukisan ini dari Joko, dan kemudian mengumumkannya kepada dunia bahwa lukisan Walter Spies yg tidak pernah diketahui ternyata muncul. Joko Tingtong tidak mau seperti itu. Dia mau ada ahli lukisan yg berdedikasi, mau meneliti sendiri lukisan ini. Lihat dan pegang sendiri. Setelah itu buat tulisan ilmiah, dan publikasikan. Pamerkan. Buat simposium, panggil banyak ahli lainnya. Setelah tidak terbantahkan lagi ini lukisan Walter Spies yg hilang, Joko akan memberikannya untuk rakyat Bali. Ditaruh di museum milik Pemda Bali di Denpasar. 

Sampai sekarang Joko tidak bisa menemukan ahli yg mau mencek keaslian lukisan ini dengan benar-benar mengamati lukisannya dari dekat dan, bahkan, dengan membandingkannya secara langsung dengan lukisan Spies yg berada di ARMA, Ubud. Tentu saja perbandingan terbaik adalah dengan lukisan-lukisan Spies yg berada beberapa istana negara.

Hipotesa Joko, lukisan Janger dibuat di Bali oleh Walter Spies dan sketsa rumah Sumatra dan pegunungan itu dibuat ketika Spies di-internir oleh Belanda di Kutacane, Aceh. Sebagai warganegara Jerman, Walter Spies di-internir oleh pemerintah Hindia Belanda ketika pecah Perang Dunia II dan Belanda diduduki oleh Jerman. Spies diinternir di Ngawi, Jawa Timur, dan kemudian di Kutacane, Aceh. Dari sana rencananya akan diangkut ke India dengan kapal Van Imhoff. Kapal ini tenggelam ditorpedo tentara Jepang di lepas pantai Sumatra. Walter Spies tenggelam bersama kapal ini.

Joko tidak mengerti bagaimana lukisan ini bisa selamat sampai ke daratan sedangkan pelukisnya tenggelam. Ada kemungkinan Walter Spies menitipkan lukisan ini ke penumpang kapal yg berhak turun naik sekoci ketika kapal van Imhoff karam perlahan-lahan. Sebagai interniran, Walter Spies dan banyak warganegara Jerman lainnya tidak boleh keluar. Dikunci di dalam kamar mereka ketika kapal tenggelam. Hanya warganegara Belanda dan orang-orang berbangsa lain yg berhak menyelamatkan diri. Joko Tingtong tahu, Spies rela meninggal asal lukisan terakhirnya diselamatkan. Untuk rakyat Bali.
 
sumber : Leonardo R. notes

11 Agu 2014

Tidak menyembah Alkitab.


Setahu Joko Tingtong, sejarah masuknya agama Kristen tidak ada di buku pelajaran sekolah di Indonesia. Joko bisa menuliskan secara umum, bahwa semasa VOC berkuasa, sampai tahun 1799, tidak ada penginjilan oleh orang Belanda. Orang Portugis melakukan penginjilan Katolik di wilayah mereka di Flores dan Timor. Katolik tidak boleh masuk di wilayah yg dikuasai VOC di Batavia, Ambon dan Melaka. Belanda saat itu fanatik Protestan, dan selalu curiga dengan orang Katolik yg sifatnya subversif, berorientasi ke Roma. Pengkoordinasian penginjilan oleh orang Belanda mulai dilakukan sejak Hindia Belanda diperintah langsung, yaitu sejak VOC bubar. Mulai tahun 1800. Sejak itu Katolik diijinkan untuk masuk, dengan badan keagamaan mereka sendiri, yg lalu berevolusi menjadi MAWI dan sekarang KWI. Yg semi-resmi atau diawasi langsung oleh pemerintah Hindia Belanda cuma koordinasi penginjilan Protestan. Di wilayah-wilayah yg beragama asli leluhur: yaitu di Maluku Selatan, Minahasa, Papua, Sumatra Utara, Kalimantan, Sulawesi Tengah, Timor. Koordinator penginjilan Protestan ini kemudian berdiri sendiri, menjadi independen di tahun 1920-an, lepas dari kendali pemerintah. Sebagai suatu organisasi, mereka cuma koordinator, dan mendorong masyarakat lokal untuk membentuk organisasi gereja sendiri. Terbentuklah Gereja Protestan Maluku, Gereja Masehi Injili Minahasa, Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Pasundan, Gereja Protestan Sumba, HKBP (Gereja Batak), GPIB, GKI, dan banyak lagi. Koordinatornya ini, yg tadinya disebut GPI kemudian berubah nama menjadi DGI, dan sekarang PGI. Asal-usulnya dari tahun 1800-an.

Bapak tirinya Joko Tingtong berada di urutan ketiga dalam angkatan pertama sekolah pendeta Protestan yg dibuka Belanda di Indonesia, di tahun 1930-an. Nomor urut ketiga di sekolah teologi pertama. Utusan dari Gereja Protestan Maluku. Yg satu angkatan dengannya menjadi Ketua DGI pertama, atau MUI-nya orang Protestan. DGI, singkatan dari Dewan Gereja-Gereja Indonesia, yg sekarang berubah nama menjadi PGI, atau Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, jauh lebih tua usianya dibandingkan MUI. Asal-usulnya dari tahun 1800-an. Dan baru membuka sekolah pendeta di tahun 1930-an. Pendeta-pendeta yg dididik merupakan kiriman dari gereja-gereja lokal, seperti gereja Maluku, gereja Batak, gereja Papua, gereja Kalimantan, gereja Minahasa, gereja Pasundan. Memang semuanya gereja-gereja etnik, aslinya beribadah dalam bahasa daerah. Bukan bahasa Belanda. Sampai sekarang sebagian masih pakai bahasa daerah untuk ibadah, dan bahasa Indonesia tentu saja. Itu sekolah pendeta sekarang namanya STT (Sekolah Tinggi Teologia), di Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat. Generasi pertamanya berasal dari tahun 1930-an, dan langsung mengambil alih semua kepemimpinan gereja lokal ketika orang-orang Belanda pulang. Semua ditinggal begitu saja, karena memang sudah dipersiapkan untuk mandiri. Konon bapak tirinya Joko Tingtong menerima pengalihan GPIB dari tangan Belanda. Ini gereja Protestan yg mungkin paling kaya, punya banyak gedung bersejarah, termasuk Gereja Immanuel, yg letaknya di sebelah Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal.
Menurut kisah dari bapak tirinya, mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Hindia Belanda yg masuk ke sekolah pendeta itu dapat perpeloncoan yg sangat sadis dari dosen-dosen orang Belanda. Disitu mereka disuruh menendang-nendang Bijbel atau Alkitab. Kitab suci orang Kristen. Ditendang kesana kemari di atas lantai, seperti main bola. Diinjak-injak, dilempar, dibanting. Semua schock. Maklumlah karena asalnya dari kampung. Dan dosen-dosen Belanda tertawa terbahak-bahak melihat itu, ternyata para profesor pengajar agama Kristen itu sama sekali tidak menghargai benda mati yg disebut Alkitab. Dibanting, dilempar dan diinjak. Mereka bilang, yg penting isinya. Ada di dalam pikiran manusia, kesadaran manusia, dan bukan di benda mati. Bukan di itu kitab yg bisa dibuang, walaupun namanya Alkitab. Kitab mati, tidak ada harganya. Yg berharga manusianya. Itu ajaran Kristen. Tidak menyembah Alkitab.Sayangnya, setelah setengah abad Belanda hengkang dari Indonesia, umat Kristen makin lama makin menjadi konservatif. Belanda liberal, agamanya juga. Mementingkan hakekat, dan bukan kulit. Yg penting praktek, tindakan nyata, dan bukan slogan. Umat Kristen yg sekarang mungkin sudah lupa ajaran Belanda. Sekarang orang condong melihat kulit, melupakan isi. Menyembah-nyembah ulama, ingin dibilang beriman dan bertakwa. Konyol sekali. Joko Tingtong tidak begitu, sama sekali tidak takut dengan ulama Kristen. Mereka sama saja dengan kita, kata Joko. Manusia biasa, tidak ada bedanya dengan anda dan saya. Ulama Kristen tugasnya adalah melayani umat, dan bukan untuk dilayani. Mungkin itu ciri utamanya, beda dengan di agama-agama lain. Harusnya Kristen yg paling maju, tetapi Kekristenan di Indonesia relatif terbelakang. Umatnya berpikir Kristen punya syariat begini begitu. Pedahal Kristen tidak pakai syariat. Bahkan tidak mensyariatkan doa dan puasa. Tidak mensyariatkan amal. Kalaupun ada, namanya ajaran gereja, seperti di gereja Katolik. Tetapi itu bukan syariat. Ajaran thok. Boleh diikuti kalau mau. Kalau tidak mau, gereja tidak bisa memaksa. Agama Kristen tidak mengenal pemaksaan.Ada perbedaan antara Kristen Protestan yg dibawa dari Eropa dengan Kristen dari Amerika Serikat. Yg sering anda lihat berteriak-teriak Yesus itu aliran Pentakosta atau Karismatik, asalnya dari Amerika. Di jaman Belanda belum ada, dan mulai masuk ke Indonesia di tahun 1970-an. Mereka yg paling rajin melakukan penginjilan. Menurut Joko bukan penginjilan di daerah terpencil seperti pedalaman Kalimantan atau Papua, melainkan penginjilan di kota-kota besar. Sasarannya adalah keturunan Cina yg, mungkin, sudah separuhnya dikristenkan saat ini. Aslinya beragama Tao atau Buddha, tetapi sekarang separuhnya sudah jadi Kristen. Protestan dan Katolik, kalau mengikuti paradigma masa lalu. Dan ditambah dengan aliran Karismatik atau Pentakosta kalau mengikuti paradigma sekarang. Karismatik itu Protestan juga, tetapi cenderung fundamentalis. Banyak ngawurnya, terutama dalam hal pengelolaan keuangan. Tetapi umatnya sudah kena hipnotis. Joko tidak suka yg model begitu. Ikut Yesus kok jadi bodoh? Seolah-olah Yesus menyuruh orang untuk kasih 10% dari penghasilan ke pendeta. Itu bukan ajaran Yesus.

"Gold, Gospel and Glory" merupakan semboyan Spanyol dan Portugal. Wilayah koloni mereka selalu dikristenkan, seperti bisa dilihat di Philipina, Mexico dan seluruh Amerika Latin. Mereka Katolik. Belanda dan Inggris tidak seperti itu, mereka Protestan. Di masa lalu, Protestan lebih tercerahkan dibandingkan orang Katolik. Caranya juga lebih manusiawi. Spanyol dan Portugal kejam sekali karena, maklumlah, langsung lepas kendali setelah bebas dari penjajahan Arab selama 800 tahun. Ini semuanya sejarah, tanpa perlu bilang salah atau benar. Ada yg benar dan dibilang salah, dan ada salah yg dibilang benar. Urusan orang, kata Joko. Yg penting saya bebas mengamati.
 
(LR notes)

5 Jul 2013

cara fikir


Kesadaran saya mampu berpikir secara logis, berdasarkan metode induksi deduksi. Induksi artinya mengumpulkan bukti dari setiap unit pengamatan. Satu bukti dikumpulkan, ditambahkan ke bukti lainnya, lama-lama bukan menjadi bukti lagi melainkan bukit. Bukit kumpulan bukti. Dari situ dilihat apa persamaannya, dan apa perbedaannya. Kesimpulan yg diperoleh namanya hasil dari metode induksi. Deduksi adalah kebalikannya. Berdasarkan kesimpulan umum, dibuatlah asumsi bahwa pengamatan-pengamatan berikutnya akan memperlihatkan hasil sama. Induksi adalah metode dari khusus ke umum. Deduksi adalah metode dari umum ke khusus. Generalisasi atau kesimpulan umum tidak langsung jadi, melainkan dibuat lebih dahulu berdasarkan pengamatan khusus. Setelah jadi barulah dijadikan patokan untuk menduga hasil yg akan diperoleh dalam pengamatan khusus berikutnya. Kalau semuanya pas, berarti generalisasi bisa dipertahankan terus. Namanya teori. Kalau tidak pas, berarti teori tidak bisa dipertahankan. Harus dibuat teori baru, dengan tahapan yg sama. Inilah yg namanya metode ilmiah.

Atau menemukan jawaban secara intuitif. Intuisi bekerja berdasarkan data yg sudah masuk lewat panca indera kita, baik secara sadar maupun tidak disadari. Alam bawah sadar kita selalu menyambung dengan alam sadar. Namanya kesadaran. Walaupun kita tidak secara sadar berpikir, sebenarnya kesadaran kita selalu berpikir, mengolah data. Sama saja seperti komputer raksasa yg bisa bekerja sendiri tanpa henti. Mengolah dan mengolah data. Sama saja seperti tubuh kita yg juga tidak pernah berhenti mengolah. Mengolah dan mengolah energi. Walaupun kita meditasi, walaupun kita tidur, tubuh dan kesadaran kita tidak pernah berhenti bekerja, mengolah energi dan data. Hasil akhirnya adalah kehidupan fisik dan intuisi. Intuisi adalah pengetahuan yg muncul begitu saja di dalam kesadaran kita. Pokoknya tahu. Tahunya dari mana tidak bisa atau susah sekali diurutkan. Saya bisa tiba-tiba tahu bahwa semua ajaran agama merupakan hasil budi daya manusia. Budi adalah akal pikiran, dan daya adalah usaha fisik. Hasil berpikir dan berolah raga. Produk budaya. Menggunakan konsep-konsep seperti berbagai Dewa Dewi dan Allah. Bahkan teknik-teknik meditasi juga merupakan hasil budaya. Yg bukan produk budaya adalah tubuh fisik kita. Itu murni hasil alam. Bertemunya sel telur dan sperma sehingga menghasilkan manusia baru.


Bahasa Inggrisnya Nature and Nurture, Alam dan Didikan. Tubuh kita adalah alam, dan cara berpikir kita adalah didikan. Didikan orang tua kita. Orang tua kita dididik oleh orang tua mereka lagi, begitu turun temurun. Sedangkan tubuh fisik kita tidak dididik. Tanpa perlu diajari, kita tahu bagaimana makan dan minum. Yg perlu dididik adalah caranya, apakah pakai tangan, ataukah pakai sendok dan garpu seperti orang Belanda. Atau bahkan pakai supit seperti orang Cina dan Jepang. Yg alam adalah hasrat makan dan minum, yg bukan alam adalah cara makan dan minum. Ada juga yg remang-remang seperti kecenderungan seksual manusia. Apakah hetero, homo atau biseksual. Makanya orientasi seksual tidak pernah henti didebatkan, mengapa timbul? Jawabannya tidak pernah tuntas. Alam atau didikan? Dari sononya atau hasil budaya? Kita tahu laki-laki dan perempuan yg berkopulasi bisa menghasilkan anak. Tapi ternyata sekarang telah ditemukan cara transplantasi genetik sehingga tanpa berkopulasi bisa juga dihasilkan anak manusia. Tentu saja belum bisa diproduksi karena masih ada pertanyaan tentang etika. Apakah pantas umat manusia menciptakan kloning? Menciptakan manusia baru dari gen-gen manusia yg sudah ada. Bisa dilakukan, tapi belum bisa diputuskan apakah pantas diteruskan karena masih ada pertimbangan historis dan etis.

Bukan dari agama karena umumnya manusia Barat sudah tahu bahwa semua agama merupakan hasil didikan. Bentukan manusia sendiri, sebagai reaksinya terhadap alam sekitar. Walaupun ada konsep Allah, masyarakat Barat tahu bahwa Allah disitu cuma konsep antara. Diciptakan untuk menjadi medium bagi pengajaran moralitas atau sistem bermasyarakat yg etis, bertanggung-jawab terhadap sesama dan diri sendiri. Bukan bertanggung-jawab terhadap Allah yg cuma konsep saja, melainkan terhadap manusia sendiri dan masyarakatnya. Walaupun pakai istilah Allah, dan walaupun juga selalu menomor-satukan Allah, dengan alasan satu bumi dan segala isinya adalah milik Allah, manusia di dunia Barat tahu bahwa Allah cuma pelengkap penderita. Medium, konsep antara. Yg diatur adalah manusia, untuk kepentingan manusia juga. Tujuan agama adalah untuk keteraturan peradaban manusia sendiri. Sayangnya, sebagian agama, terutama di negara-negara berkembang, tetap dipertahankan dalam bentuk kedaluwarsanya. Masyarakat sudah berubah, tetapi agamanya tetap dipertahankan dalam bentuk seperti dipraktekkan ratusan tahun lalu. Di Barat tidak begitu. Masyarakat berubah, agamanya berubah. Yg merubah agama adalah manusia sendiri. Dibentuk oleh manusia, dan diubah oleh manusia juga. Untuk kepentingan manusia sendiri yg mungkin masih menyembah sesuatu yg disebutnya Allah. Atau God dalam bahasa Inggris.


(Joko T.)

4 Jul 2013

software

T = Ada yang mengatakan bahwa di past lives-ku aku ini seorang pendeta Hindu, seorang putri di sebuah kerajaan di Jawa. Dan sesungguhnya aku juga tidak terpaku dengan segala macam cerita tentang past lives. Cuma aku, kok, ngerasa aku ini juga pernah jadi cowok juga. Maukah kamu ngeliatin my past lives? Kalo ada gunanya buat menyembuhkanku, tentunya.

J = Apa yg orang bilang tentang past lives terutama berasal dari impressi di masa kini saja. Termasuk fantasi juga. Fantasi itu realita. Di alam astral, fantasi kita menjadi realita. Sama saja kalau kita berfantasi dengan Sorga Neraka, maka walaupun kita sadar sesadar-sadarnya bahwa itu cuma fantasi belaka, di alam astral tetap saja ada yg namanya Sorga Neraka. Adanya di dalam alam astral atau alam pikiran kita saja.


Orang yg membaca kehidupan masa lalu atau past lives tentunya melihat ciri-ciri anda yg bisa dirasakannya pada saat ini. Kalau cirinya feminin seperti seorang putri Jawa, maka dengan amat mudahnya dia bilang bahwa di reinkarnasi masa lalu anda adalah seorang putri keraton. Pedahal itu cuma akal-akalan dia saja. Mungkin juga dia cuma ber-fantasi.


Kita harus memutuskan mau percaya yg mana. Kalau mau percaya reinkarnasi, maka kita akan memakai software reinkarnasi. Kalau mau percaya Allah, maka kita akan memakai software agama. Semuanya software belaka, bisa dibuang juga kalau sudah usang dan kita telah mampu menciptakan software baru yg bisa kita beri nama 'Menjadi Diri Sendiri'.

Menjadi diri sendiri artinya menentukan kita ini siapa, mau menjadi apa, apa yg bisa kita lakukan, dan apa yg akan kita lakukan. Kitalah yg menentukan semuanya, dan bukan segala macam kata orang ataupun kata agama. Kata orang anda pernah menjadi putri keraton di Jawa masa lalu. Kalau menggunakan software reinkarnasi, maka kita akan selalu bisa menjawab pertanyaan tentang past lives. Patokannya: semua orang sudah pernah menjadi pria dan wanita. Semua orang sudah pernah hidup menjadi raja dan ratu. Semua orang sudah pernah menjadi penjahat. Semua orang sudah pernah berbuat kesalahan fatal. Kalau tidak membuat kesalahan fatal kenapa harus balik lagi ke kehidupan di dunia ini?

T = O ya, orang itu juga bilang katanya aku ini memiliki energi yang, kalo musti digambarkan, seperti spiral, kayak obat nyamuk. Sekilas energiku tidak seberapa. Tapi kalo dicermati dalam-dalam (yang katanya tidak setiap orang mampu), energiku gede banget. Dia sampe merinding, katanya. Bahkan tatapan mataku bisa membalikkan aliran darah seseorang kembali ke jantung, dan karena itu bisa membunuh. Yang begini tidak kupercayai. Cuma... jadi ingat, dulu, ada seorang yang iseng-iseng coba-coba menerawangku (bersama beberapa temennya), melihatku dikitari oleh sosok-sosok serupa denganku, banyak, berseliweran di sekelilingku. Dan katanya juga, kekuatan pikiranku bahkan bisa membunuh seseorang (dari jarak jauh). Yang ini agak kupercayai. Kukira setiap orang punya potensi mempekerjakan pikirannya.

J = Cara kerja mereka yg membaca past lives dan energi memang seperti itu. Mereka merasakan impressi, kesan. Kesan apa yg anda timbulkan terhadap mereka yg menerawang anda, maka itulah yg mereka ucapkan. Karena mereka yg menerawang ini biasanya dari aliran klenik, makanya seringkali terawangan mereka juga tidak keruan bahasanya. Bisa dibilang ada energi muter-muter kayak angin ribut, bisa dibilang ada tatapan mata seperti Dewi Gorgon yg akan membuat para pria yg menatap langsung menjadi batu.

T = Yang meresahkanku, aku merasa aku ini telah pernah mencelakai seseorang (laki-laki) dengan pikiranku, dan si cowok ini lalu menderita kesakitan akut (secara fisik di otaknya), hingga suka pingsan-pingsan mendadak. Tolong aku diterawang, apakah pikiranku memang telah pernah mencelakai seseorang dengan kejinya, sehingga dia memiliki gangguan di otaknya?  Feelingku mengatakan, iya! Oooh, alangkah mengerikannya aku, ya... apa yang musti kulakukan?

J = Gaklah, gak begitu. Itu cuma perasaan anda saja. Anda bukan seorang penyihir!

T = Soal energiku, aku sendiri kadang-kadang bisa merasakannya... Apakah kamu merasakannya juga? Apakah aku ini memang mengerikan? Aduuuh... aku merasa begitu rapuh sekarang, pengennya nangis mulu. Ini juga udah mulai nagis. Yaaah... meweks, deh!

J = Energi tiap orang bisa dirasakan. Energi anda memang besar, tapi banyak bersifat menarik ke dalam. Seharusnya bisa dialirkan keluar dari dalam diri anda untuk membantu penyembuhan orang lainnya. Kalau anda menarik energi anda yg besar ke dalam diri anda sendiri, maka akibatnya anda bisa sakit. Anda akan merasa rapuh, merasa selalu kesepian, pedahal sebenarnya anda kuat. Anda cuma akan merasakan diri anda kuat apabila telah mulai melakukan penyembuhan terhadap orang lain, caranya terserah.

T = O ya (lagi), orang itu pernah mengajakku bertemu, aku mengiyakannya, tapi lalu aku membatalkannya (entah kenapa, aku ini suka merasa nggak nyaman kalo ketemu orang-orang sakti), dengan permintaan maaf, tentunya. Dan sepertinya dia kecewa, dan... dia lalu meramalku (tanpa kuminta), kira-kira... bahwa di masa depan nanti aku akan merasa sunyi, sepi... yah, semacam itu. Aku kaget, juga takjub dengan reaksi negatifnya. Langsung imelnya kubalas dengan doa yang baik-baik untuknya, juga untuk diriku sendiri. Apakah menurutmu demikian seharusnya? Apakah tindakanku membalikkan kata-kata negatifnya dengan doa yang baik itu sudah benar, artinya bisa menetralkan segala ramalannya (andai benar)?

J = Tindakan anda sudah benar.


(Joko T.)

29 Jun 2013

penipuan diri yg positif

Sugesti itu penipuan diri, sehingga bisa memunculkan dari tiada menjadi ada. Orang yg tidak cantik dan merasa jelek luar biasa bisa melakukan sugesti terhadap dirinya sendiri, dalam gelombang otak rendah diterapkannya sugesti berulang-ulang, dikatakannya kepada dirinya sendiri bahwa dia cantik jelita. Tergantung dari kekuatan gelombang otaknya, teknik ini bisa berhasil dengan cepat sekali atau cukup lambat. Kalau khusyuk mensugesti diri bahwa dia benar cantik jelita, maka akan berubahlah persepsinya. Persepsinya sendiri. Cara pandangnya sendiri. Dia akan merasa dirinya benar cantik jelita, pedahal tidak cantik dan biasa saja. Karena dirinya sendiri sudah percaya itu, maka orang-orang di sekitarnya akan bisa ikut percaya. Percaya bahwa dia benar cantik jelita. Dibenarkan karena tindak-tanduknya mencerminkan seorang perempuan cantik jelita. Banyak yg bisa melakukan, dan cukup umum. Merupakan teknik biasa saja. Namanya hypnotherapy. Bisa dilakukan seorang diri. Anda juga bisa kalau mau. Mulanya anda menipu diri sendiri, bilang anda yg jelek adalah seorang cantik jelita. Lama-lama, anda tidak menipu diri lagi. Anda benar-benar menjadi cantik jelita. Cara pandang anda berubah, cara pandang orang lain juga berubah. Dan dibuktikan dengan sikap dan tingkah-laku anda yg berubah. Ketika perilaku anda berubah, mereka di sekitar anda juga akan berubah. Mulanya penipuan diri, akhirnya menjadi realita. Kenyataan. Dan ini contoh dari penipuan diri yg positif.

Dan ada penipuan diri yg jelas jelek. Jelek karena merugikan orang lain. Anda menipu diri sendiri dengan bilang ada ayat yg berasal dari Allah merupakan urusan anda sendiri. Anda bisa percaya itu ayat datang sendiri kepada anda melalui perantaraan malaikat Jibril. Datang ketika anda sedang tafakur. Anda lihat Jibril dengan sayapnya, dan ada suara yg anda jelas dengar. Namanya halusinasi, suatu istilah psikologi. Anda yg lihat, anda yg dengar. Orang lain tidak lihat dan tidak dengar. Tetapi anda percaya. Percaya bulat. Anda mungkin termasuk salah satu yg seperti itu. Dan tentu saja anda tidak merasa menipu diri sendiri. Anda merasa benar. Benar melihat dan benar mendengar. Tetapi orang lain akan bilang anda menipu diri. Mengidap delusi atau waham. Jelek apabila anda berusaha untuk memaksakan apa yg yg anda peroleh kepada orang lain. Yg anda peroleh bersifat gaib. Gaib artinya tidak terlihat atau terdengar oleh orang lain. Terlihat atau terdengarnya cuma oleh anda sendiri. Halusinasi itu cuma anda alami sendiri. Bisa bagus apabila segala halusinasi itu anda cerna sendiri, dan anda tafsirkan. Mungkin bisa ada hidayah yg muncul. Orang bijak seperti itu. Orang bijak bukan bayar pajak saja, tetapi juga seharusnya mampu menafsirkan halusinasi yg dialaminya. Dan bukan memaksakan itu halusinasi untuk diterima juga sebagai fakta oleh orang-orang lainnya. Kalau itu halusinasi dituliskan, dan dipaksakan kepada orang lain dengan alasan berasal dari Allah, maka kita bisa bilang itu penipuan diri yg jelek. Sudah cukup satu orang saja yg menipu dirinya memperoleh ayat dari Allah. Kenapa harus memaksakan orang lain untuk terima juga? Kalau benar asalnya dari Allah, biarkan saja Allah menurunkan ayat yg sama kepada semua orang lainnya. Tetapi tentu saja tidak bisa. Halusinasi jarang bersifat komunal. Biasanya individualistik atau orang per orang, tergantung dari stress atau depresi yg dialaminya. Tergantung juga dari metabolisme. Sistem hormon. Kestabilan tiap orang berbeda. Kestabilan fisik yg rapuh bisa memunculkan banyak halusinasi.

Joko tahu mekanisme proses turunnya ayat. Sampai detik ini masih terjadi di seluruh bumi. Ada ayat yg turun atas nama Allah. Kalau dalam bahasa Inggris bisa pakai istilah God. Di bahasa Indonesia bisa mengaku sebagai Tuhan. Semuanya proses biasa. Tidak perlu dituliskan dan dipaksakan kepada manusia lainnya. Dan, tentu saja, kita harus toleran terhadap manusia-manusia semacam itu. Harus toleran juga terhadap manusia-manusia yg percaya bahwa tetangganya menerima wahyu dari Allah. Asalkan semua dilakukan secara pribadi, di dalam ruang lingkup hidup mereka sendiri, maka kita bisa tolerir. Yg tidak bisa ditolerir adalah apabila mereka memaksakan isi dari ayat yg mereka percaya berasal dari Allah. Kalau Allah yg muncul di mereka bilang facebook haram, dan mulai menyerang pengguna facebook dimana-mana, maka itu harus di-stop. Bilang saja terus terang, bahwa percaya Allah tidak berarti mereka berhak memaksakan jenis Allah yg mereka percaya kepada orang lain. Allah jenisnya banyak, dan kita toleran terhadap semuanya. Terhadap semua jenis Allah. Asal tidak mengganggu saya saja, kata Joko.

Joko Tingtong berpendapat, toleransi beragama harusnya ditunjukkan oleh orang-orang yg sudah tidak percaya lagi bahwa agama benar diturunkan Allah. Semua manusia terdididik boleh bilang sudah tahu bahwa agama dibuat oleh manusia, termasuk ayat-ayat sucinya. Ada yg tahu secara mutlak berdasarkan apa yg dipelajarinya sendiri. Ini kelompok yg benar terdidik. Ada pula yg tahu secara samar-samar, secara intuitif bisa mengerti bahwa semua cuma rekayasa manusia masa lalu. Ada yg tahu tapi pura-pura tidak tahu demi menjaga ketertiban masyarakat. Terbukanya rahasia yg bukan rahasia ini perlu masa transisi, yg bisa berlangsung ratusan tahun seperti di masyarakat Barat. Apa yg didebatkan di Indonesia detik ini sudah dilakukan di Barat tiga abad yg lalu. Tiga ratus tahun yg lalu. Sudah basi. Orang sudah tahu bahwa semua agama dibuat. Kitab suci juga dibuat. Ada gaya bahasa seolah Allah yg berbicara. Tapi secara fisik yg berbicara itu manusianya. Asal kata-katanya juga dari si manusia sendiri, walaupun mengaku sebagai Allah. Rata-rata orang Barat sudah tahu itu, dan tidak mempersoalkan lagi. Mereka bisa toleransi terhadap orang yg masih percaya bahwa benar ada Allah yg menurunkan ayat. Bisa toleransi asal tidak mengganggu. Kalau sudah mengganggu dan merusak, tidak ada lagi toleransi. Walaupun berbekal ayat yg anda percaya berasal dari Allah, tidak akan ada toleransi bagi kelakuan destruktif yg anda lakukan. Allah fungsinya untuk kesejahteraan jiwa anda, bukan untuk merusak harta benda dan kehidupan orang lain.

Untuk anda yg belum tahu, Joko Tingtong berbagi tentang fakta, bukan keyakinan. Kalau faktanya agama dibuat oleh manusia, itulah yg dibagikannya. Dan itu bukan keyakinan. Tanpa anda perlu yakin, agama memang buatan manusia. Yg perlu keyakinan adalah ketika anda percaya agama dibuat oleh Allah. Joko tidak mengeluarkan ayat, bukan nabi. Joko cuma berbagi, seperti bisa terlihat di percakapan ini.

T = Mas Joko, saya mao cerita ya... Saya ini gadis biasa yg gak ngerasa punya bakat apa-apa dalam hal spiritual. Saya senang meditasi karena saya suka, bukan karena saya bisa ngerasain sensasi yg gimana-gimana. Sebelumnya saya selalu menganggap Tuhan itu ada di luar kita, terpisah sama sekali dari manusia, yg senang kalo kita rajin sembahyang minta ini itu (itu yg dulu saya lakukan), rajin puasa, vegetarian, gak nonton bokep, gak kencan sama om-om, dan saya percaya surga dan neraka itu tempat kita nanti tergantung pahala... Tapi suatu pagi di bulan Mei, saat saya meditasi tiba-tiba saya dapat pemahaman baru yg sangat mempengaruhi spiritualitas saya sekarang...

J = Really?

T = Pagi itu saya mendapatkan apa yg saya cari selama ini ternyata ada dalam diri saya. Tuhan ada disini. Tuhan ada dalam raga saya. Inilah yg saya cari selama ini. Tuhan itu penuh dengan cinta, kasih sayang tanpa memilih tanpa membedakan. Tuhan itu ada disini dan surga juga ada di sini...

J = Iyalah, then?

T = My tears running down, tears of joy... Pokoknya rasanya hebat banget, susah kalo dijelasin dengan kata-kata... (I belong to you and you belong to me), dan pas banget pemahaman baru itu dengan kalimat Mas Joko yg bilang: "We are God experiencing many kinds of adventures, makanya kita tidak menghakimi."

J = Hmmm...

T = Yang mao saya tanyakan sama Mas Joko adalah apakah yg saya rasakan itu? Pemahaman yg tiba-tiba itu datangnya dari mana? Apakah saya berfantasi?

J = Yang anda rasakan adalah hikmah berupa intuisi yg muncul begitu saja dari dalam kesadaran anda. Buddha mengalami itu. Yesus juga. Semua orang top, keren dan beken mengalaminya. Pengalaman spiritual pribadi seperti itu bukanlah fantasi. Cuma intuisi saja. Pengertian biasa saja. Memang biasa. Sangat umum. Yg tidak umum adalah keberanian anda untuk mengakuinya.

(Joko T.)

28 Jun 2013

bahkan syahadat atau pengakuan iman juga dibuat oleh manusia


bahkan syahadat atau pengakuan iman juga dibuat oleh manusia. Bukan ada Allah yg memaksakan manusia untuk bersyahadat atau mengakui keimanan kepadanya, melainkan ada manusia tertentu yg memaksa manusia-manusia lain untuk mengucapkan syahadat itu, dengan kepentingan tertentu, biasanya kerelaan untuk menyumbang uang dan tenaga. Resminya bersyahadat atau mengaku iman kepada Allah, tidak resminya untuk manusia. Dan inilah salah satu contoh nyata dari pepatah exploitation de l'homme par l'homme. Artinya, eksploitasi manusia oleh manusia lainnya.

ini rahasia umum, seharusnya semua orang sudah tahu. Tetapi ternyata tidak. Di Indonesia orang masih berpikir ada Allah yg mendiktekan kata-kata syahadat kepada manusia. Tidak begitu, kata Joko Tingtong. Syahadat adalah hasil kompromi antara manusia sendiri. Kompromi politik. Anda bisa pelajari kasusnya yg paling jelas dalam kisah pembentukan agama Kristen. Kisah nyata, tentu saja. Syahadat atau pengakuan iman Kristen yg pertama-kali disahkan pada tahun 325 M, di dalam konsili yg dihadiri oleh Kaisar Romawi, Constantinus. Kaisar Romawi memaksakan diterimanya kompromi-kompromi, demi penggunaan Kekristenan sebagai ideologi negara. Sedikit demi sedikit Kristen menjadi ideologi, makin lama makin kaku. Pedahal asalnya cuma sempalan dari agama Yahudi. Bukan agama, melainkan tarekat, sekte. Kumpulan para praktisi spiritual. Lama-kelamaan menjadi agama dan ideologi karena ada orang-orang ambisius yg menghasilkan banyak tulisan. Yg paling berpengaruh sampai abad pertengahan namanya Santo Agustinus. Bukunya berjudul "Civitate Dei". Atau "Kota Allah".

Inti pemikirannya, Kekristenan wajib membawa berkat ke seluruh alam. Mewujudkan surga di atas bumi, dengan gereja sebagai kepala pemerintahannya. Itu pemikiran Kristen di abad-abad awal tarikh Masehi, sebelum Islam muncul. Menurut Joko, slogan rahmatan lil alamin di Islam sedikit banyak mengambil alih konsep dari Santo Agustinus. Itu Kristen abad pertengahan atau, lebih tepat, abad kegelapan. Otoriter sekali. Kristen sekarang sudah jauh berbeda. Tidak lagi megalomaniak seperti itu.


Untuk anda yg belum tahu, syahadat Kristen tidak berbunyi "aku bersaksi", melainkan "aku percaya". Dan anda tidak perlu bilang aku percaya kalau bicara dengan Thamrin Amal Tomagola, guru besar Sosiologi di Universitas Indonesia. Kalau anda bilang aku percaya, bisa-bisa tidak lulus. Thamrin Amal Tomagola adalah guru saya, kata Joko Tingtong. Asli guru saya dalam mata kuliah Pengantar Sosiologi di FISIP UI. Sudah jadi ketua jurusan Sosiologi ketika Joko baru masuk di tahun 1983.

(Joko T.)

13 Jun 2013

Temanku yg Orang Aceh

Sepanjang tahun 2009, ada seorang teman dari Aceh yg mengikuti terus postingan Joko Tingtong di facebook. Asalnya dari Aceh dan sudah tinggal di Jakarta. Mendekati akhir tahun, pada bulan November, beberapa teman dekat yg sudah gatal karena Joko terlalu banyak bertapa akhirnya memutuskan untuk datang. Datang ke rumah Joko. Bukan acara sarasehan Spiritual Indonesia yg biasanya norak dan bernuansa gebyar, dihadiri sekitar 200 orang. Melainkan cuma merumpi kecil-kecilan. Paling cuma untuk 10 orang saja.

Di pertengahan tahun 2013 ini, Joko bisa melihat kembali kejadian saat itu dengan tenang. Memang cuma 10 orang yg datang, tetapi semuanya luar biasa. Ada yg khusus datang dari Amsterdam. Ada anak indigo yg waktu itu masih lumayan waras tetapi nampaknya makin lama makin parah delusinya. Sekarang entah ada dimana. Ada yg inginnya mendekonstruksi orang lain, tetapi jadinya malah dirinya sendiri yg terdekonstruksi, makin lama makin error. Ada seorang psikolog yg waktu itu baru saja menjanda, dan sekarang sudah bertunangan. Dua orang anak kristal. Lima orang keturunan Sulawesi, termasuk Joko Tingtong sendiri. Dan teman yg lahir dan besar di Aceh itu. Temanku yg orang Aceh, kata Joko Tingtong.

Bagi Joko, Aceh tidak terasa asing. Joko punya tante yg menikah dengan orang Aceh. Joko panggil dengan sebutan Om Hanif. Namanya Teuku Hanif, tapi Joko panggilnya Om Hanif saja. Orang baik sekali, meninggal dalam usia muda. Perempuan-perempuan Aceh yg dikenalnya justru bukan anak alim. Mereka bergaul dengan bule, tinggal serumah, tanpa nikah. Joko bahkan sempat diajari untuk cari cewek bule. Diajari oleh perempuan Aceh. Begini lho caranya! Kalau mau cari cowok bule disana tempatnya, cari cewek bule disini tempatnya. Nama tempat pelesiran beserta alamat lengkapnya. Tentu saja Joko tidak menghiraukan saran itu. Saya bukan gigolo, kata Joko Tingtong.

Teman Joko yg orang Aceh itu meninggal tahun berikutnya. Tahun 2010. Meninggal dalam usia 40 tahun. Joko tidak ditinggalkan warisan, dan cuma punya sepenggal percakapan berikut ini dengannya.

T = Dearest Mas Joko yg waskita, abang saya yg berada di Banda Aceh memberikan uraian yg sampai saat ini masih belum saya fahami sepenuhnya, untuk itu mohon perkenan Mas Joko untuk menjelaskan arti kata-kata tersebut pada diri saya.

J = Bagaimana kata-katanya?

T = Jangan pernah berfikir akan hasilnya. Buang prasangka apapun, jalani dengan intuisi, berbaik dan bantulah setiap makhluk, banyak mendengar daripada berbicara.

J = Artinya hidup apa adanya saja, melakukan ikhtiar tanpa perlu kuatir tentang hasilnya. Apapun hasilnya merupakan urusan nanti, kita hanya bisa melakukan apa yg kita bisa lakukan saat ini saja. Ikhtiar sebatas kemampuan. Hidup disini dan saat ini saja.

T = Perasaan takut atau apapun yang terjadi hal biasa karena tubuh/indera mencoba untuk menyesuaikan diri, itu bagian dari sensasi tubuh.

J = Artinya, perasaan takut yg ada di dalam pikiran kita merupakan refleksi dari spontanitas tubuh kita menanggapi keadaan lingkungan. Misalnya, tubuh langsung bereaksi ketika kita mendekati wilayah yg suhu udaranya berubah. Kalau memasuki wilayah panas, tubuh fisik sudah mendeteksinya sejak jauh. Memasuki wilayah dingin juga begitu. Memasuki wilayah ketinggian, memasuki kerumunan orang, dsb... Cuma, seringkali pikiran kita terlambat. Kita cuma merasakan risau.

Pikiran kita risau tidak tahu ada apa, pedahal otak fisik kita sudah mencatat bahwa tubuh kita sudah melakukan adaptasi karena akan memasuki lingkungan berbeda. Kerisauan yg tidak diketahui menyebabkan rasa takut. Takut karena tidak mengerti. Pedahal kalau sadar bahwa segalanya cuma perubahan di tubuh fisik yg melakukan adaptasi, maka kita tidak perlu risau, tidak perlu takut. Ini proses alamiah biasa saja.

T = Biasakanlah antara tubuh dan fikiran sejalan, itu bagian dari kontemplasi atau tafakur atau shalat daim + rasa-ku.

J = Tubuh dan fikiran sejalan artinya centered atau terpusat. Terpusat artinya tidak terpecah. Kita berjalan sesuai dengan apa yg kita niatkan tanpa perlu terpengaruh apapun kata orang dan lingkungan. Upaya centering ini adanya di pusat kesadaran kita, yaitu di cakra mata ketiga. Bisa dibilang di God Spot atau kelenjar pineal. Ini kiblat yg asli, ada di setiap manusia. Essensi dari ibadah adalah selalu menghadap ke kiblat. Bukan kiblat fisik yg cuma simbol saja, melainkan kiblat asli yg adanya di dalam diri setiap manusia. Tempatnya di cakra mata ketiga itu yg bisa kita rasakan di titik antara kedua alis mata... Tafakur tempatnya disana. Dan kalau tidak sedang tafakur, kita juga bisa tetap disana. Diam saja dan rasakan saja. Bahkan ketika sedang berjalan kaki atau berbicara dengan orang lain, kita akan bisa selalu membawa sikap tafakur. Selalu menyambung dengan frekwensi tafakur, atau katakanlah frekwensi ibadah setiap saat.

Ketika hal ini dibiasakan, maka kita akan selalu terpusat. Bukan terpusat di wejangan-wejangan para ulama, melainkan terpusat di dalam kesadaran kita sendiri saja. Inilah makna dari perkataan ana al haq dari Al Hallaj. Ini pula yg dimaksudkan oleh para sufi itu. Mereka mungkin menggunakan istilah kesatuan antara pikiran dan tubuh... karena ucapan inilah yg paling mudah dimengerti oleh khalayak umum. Tetapi yg dimaksudkan adalah pengertian yg lebih subtil, yaitu centering ataumemusatkan kesadaran di satu titik. Pemusatan sepanjang waktu, sehingga kita tidak terombang-ambing oleh apapun yg kita hadapi. Kita terpusat, kita menyatu.

Yg digunakan adalah istilah kesatuan antara pikiran dan tubuh karena kata-kata itu bisa diterima oleh orang banyak. Kalau menggunakan kata-kata kesatuan kesadaran dengan Al Khalik, misalnya, maka akan menimbulkan kontroversi. Al Khalik adalah kesadaran alam semesta, dan kesadaran kita akan menyatu dengan kesadaran alam semesta ketika kita terpusat. Terpusat di kesadaran kita sendiri saja, di kiblat yg adanya di dalam diri kita sendiri. Tubuh fisik akan ikut. Tanpa perlu diatur, tubuh fisik akan mengikuti kesadaran kita yg, katakanlah manunggaling kawula gusti.

Memang tubuh fisik akan bereaksi terhadap lingkungan. Tetapi kesadaran kita akan mencatatnya saja, tanpa perlu kalang-kabut, tanpa perlu risau... Kita tidak risau karena pikiran dan tubuh menyatu. Selalu kontemplasi, selalu tafakur, walaupun bisa saja sangat aktif dalam kegiatan fisik dan hubungan antar manusia.

T = Setiap kita unik, itu terjadi karena kita ujud, jika yang tinggal adalah Dzat yang tampak adalah nyata/ tercerahkan. Tidak usah dijelaskan sudah tahu.

J = Kita disebut unik karena memiliki kepribadian atau personality. Persona artinya topeng. Personality adalah topeng yg kita gunakan ketika kita berhadapan dengan manusia lain. Bahasa Indonesianya: kepribadian. Kepribadian itu ada karena kita masih berbentuk manusia fisik. Wujud fisik kita berbeda-beda, cara berpikir kita berbeda tergantung dari latar belakang budayanya. Sikap terhadap berbagai hal juga berbeda-beda, tergantung selera orangnya sendiri. Tetapi di balik semuanya itu ada yg namanya roh. Roh itu dzat, dan sama saja di manapun roh itu berada. Roh yg ada di anda sama persis dengan roh yg ada di saya, sama persis dengan roh yg ada di para manusia yg di-nabi-kan. Bahkan sama persis dengan roh yg ada di manusia-manusia atheist.

Mau atheist ataupun agamis sama saja, semuanya memiliki roh yg sama. Dzat yg sama. Roh itu sadar bahwa dirinya sadar, dan melihat dari sudut pandang berbagai pribadi yg unik itu. Ada roh yg melihat dari dalam mata fisik anda. Ada roh yg melihat dari dalam mata fisik saya. Ada roh yg melihat dari dalam mata fisik seorang teroris. Ada roh yg melihat dari mata fisik seorang sufi. Kepribadian manusianya berbeda, cara berpikirnya berbeda, melihatnya dari mata fisik yg berbeda... tetapi roh atau dzat yg melihat itu semuanya sama.

Saya adalah anda yg melihat dari dalam mata fisik saya. Dan anda adalah saya yg melihat dari dalam mata fisik anda... Yg melihat itu ternyata essensinya sama saja, dzat yg sama, roh yg sama. Yg sadar bahwa dia itu sadar. Cuma ada satu saja bukan? Bahkan cuma ada satu Dzat di seluruh alam semesta ini. Dalam bahasa agamis, cuma ada satu Allah. Dan Allah itu Dzat yg ada di mana-mana. Ada di anda, ada di saya, dan ada di siapa saja.

T = Jangan pernah merasa tahu, tahu itu ibarat kita tidur, bukan sebelum atau sesudahnya.

J = Tahu itu ibarat kita tidur, yaitu mengamati apa yg muncul di depan kita saja. Waktu tidur kita tidak merasa bahwa kita tahu. Kita cuma melihat saja tanpa membawa-bawa ego atau konsep diri kita. Karena tidak ada ego, maka kita tidak merasa sok tahu. Kita tahu adalah essensi dari diri kita ketika kita tidur... Sebelum tidur kita tidak tahu karena pikiran kita berjalan-jalan. Sesudah bangun tidur, pikiran kita berjalan-jalan kembali. Pikiran kita tidak pernah diam di tempat. Pikiran yg diam di tempat dan tahu adalah pikiran di kala kita tidur. Kita saat itu tidak bilang kita tahu, tetapi tahu itu adalah kita sendiri. Saya tahu karena saya tahu.

Memang yg saya ketahui ada di depan mata saya yg secara fisik sedang tidur lelap itu. Yg anda ketahui ada di depan mata fisik anda yg sedang tidur lelap. Dan kita tidak perduli dengan apa yg ada sebelumnya, dan apa yg akan ada sesudahnya. Yg ada cuma di titik saat itu saja, yg ada di depan mata. Itulah tahu. Dan bahkan kita tidak perlu merasa tahu seperti dalam keadaan melek. Dalam keadaan tidur, kita tahu karena kita tahu. Tanpa perlu menghubungkan dengan masa lalu dan masa depan seperti tahu dari jenis biasa, yg pengertiannya kita pakai sebagai pengertian tahu yg umum, yaitu ketika kita sadar secara fisik, ketika mata kita terbuka lebar, dan ketika ego kita selalu menyaring segala-galanya sehingga terjadi distorsi. Distorsi adalah pengaburan. Tahu dalam keadaan melek selalu distorted, selalu terkaburkan karena ada ego kita disana. Dalam keadaan tidur tidak begitu.

T = Pencerahan bukan untuk dimengerti tapi nikmati, kalimat ini juga tidak tepat. Cobalah fahami bagaimana rupa manis itu. Coba jelaskan. Kira-kira begitulah.

J = Kita tidak mencoba mengerti cahaya itu apa bukan? Definisinya banyak, bisa menurut fisika, bisa menurut penyair, bisa menurut para filsuf. Tapi kita tidak perduli semuanya. Kita cuma tahu bahwa ada cahaya, dan kita bisa pakai cahaya itu untuk melihat. Kalau tidak ada cahaya maka segalanya jadi gelap, mata fisik kita tidak bisa melihat. Kalau ada cahaya, maka layar monitor bisa terbaca. Dan dibacalah saya tulis apa, walaupun jelas tidak ada seorangpun yg mengerti cahaya yg membawa pencerahan ke layar monitor mereka itu sebenarnya apa. Yg penting monitornya cerah, dan saya bisa membaca. Siapa yg membawa pencerahan atau pencahayaan bagi monitor saya, saya tidak pernah perduli. Saya tidak mengerti bagaimana bekerjanya mata rantai dari penambangan logam sampai pengolahan plastik dan kawat-kawat untuk membuat monitor itu dilakukan. Lalu distribusi plus pembangkitan tenaga listrik. Ribet. Yg penting baca saja. Sudah cerah. Tanpa perlu saya bilang bismillah dan alhamdulilah memang sudah cerah. Bisa dibaca.

T = Hiduplah dengan badan surgawi, hilangkan citra, prasangka dan sejenisnya, jalani kehidupan tubuh sesuai dengan hukum alam, dinamis, tertib, tanpa keluhan.

J = Artinya tidak neko-neko dalam bahasa Jawa. Menjadi diri sendiri saja, apa adanya saja, tanpa perlu ngotot dan ngoyo. Tanpa perlu memaksakan diri, tanpa perlu mengeluh kiri kanan. Tanpa perlu merasa diri lebih tinggi, tanpa perlu merasa diri lebih rendah. Dengan kata lain, hidup dengan cara wajar dan biasa-biasa saja.

T = Shalat atau sejenisnya adalah bentuk kepatuhan bagi yang memerlukan dan yang tidak memerlukan.

J = Shalat dan sejenisnya seperti meditasi dan yoga adalah bentuk kepatuhan atau disiplin. Disiplin itu praktek yg mengikuti bentuk tertentu. Ada kebakuan dalam format yg diulangi berkali-kali. Dinamakan kepatuhan karena orang beranggapan bahwa cara itu akan mencapai apa yg diinginkan. Kalau orangnya percaya akan memperoleh kedamaian bila menjalani kepatuhan atau disiplin itu, maka orangnya akan selalu kembali lagi melakukannya. Berkali-kali, berulang-kali, bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun. Kepatuhan dijalani sampai orang merasa tidak lagi memerlukannya. Walaupun sudah tidak lagi merasa membutuhkan sholat atau meditasi, sang manusia tetap akan bilang bahwa ada bentuk kepatuhan. Kepatuhan yg bisa dijalani kalau merasa membutuhkan, dan bisa pula tidak dijalani kalau merasa tidak membutuhkannya lagi. Yg jelas, mereka memang suatu praktek, suatu disiplin, suatu kepatuhan. Bisa dijalani kalau mau, dan bisa pula tidak dijalani kalau tidak mau. Bentuk kepatuhan bermacam-macam. Bisa disebut sholat dan meditasi, bisa pula diciptakan model lain lagi. Dan model baru itu, misalnya dugem setiap hari, bisa pula akhirnya disebut sebagai suatu macam kepatuhan. Kepatuhan yg bisa diikuti oleh mereka yg memerlukannya. Dan tidak diikuti oleh orang lainnya seperti saya dan anda yg merasa tidak memerlukannya.

T = Jangan berfikir, kembali ke kehendak diri bukan ego. Jangan meniru, ikutilah panggilan nurani. Jadilah pengembara tanpa tujuan.

J = Artinya be yourself!  Jadilah diri anda sendiri. Anda mau jadi pengembara tanpa tujuan? Ya jadilah. Kalau mau punya tujuan, ya punyalah. Be genuine! Sejati dan bukan pura-pura. Walaupun jatuh bangun, akhirnya anda akan mengerti bahwa yg namanya tujuan cuma sebutan saja. Saya mau pulang bisa dibilang sebagai tujuan.Tetapi apakah saya benar-benar langsung pulang ke rumah? Bisa saja saya merantau ke mancanegara bertahun-tahun sebelum akhirnya pulang. Bisa saja saya tidak pulang ke rumah lagi. Tujuannya cuma untuk pulang, tetapi akhirnya terdampar dimana-mana. Lalu, apakah akhirnya saya pulang juga? Iyalah,... cepat atau lambat saya akan pulang. Pulang disini berarti meninggalkan tubuh fisik, dan itulah tujuan satu-satunya dari kita hidup di dunia ini. Diluar itu semuanya bukan tujuan. Biarpun disebutkan cita-cita kita, itu tetap bukan tujuan. Kita tidak akan pernah punya apa yg disebut tujuan di dunia ini karena kita semuanya memang cuma akan pulang saja. Itu tujuan, dan sudah ada sejak kita lahir ke dunia ini. Dan tujuan yg asli itu cepat atau lambat akan kita capai. Diluar itu semuanya cuma fantasi, imajinasi, pengisi waktu.

T = Alami saja, seiring dengan waktu akan mengalami keselarasan antara tubuh, fikiran, hati dan ruh. Ritual hanya alat, setiap orang beda. Intinya pengendalian.

J = Ritual yg ada di agama-agama itu hanyalah alat agar manusia bisa selaras. Pertama selaras dalam diri sendiri, dan kedua selaras dengan lingkungan manusia dan alam. Kalau sudah selaras, artinya kita bisa menerima diri sendiri apa adanya, tanpa merasa perlu tergantung apa yg orang lain ucapkan tentang diri kita. Kita juga tidak akan memaksa orang lain untuk selaras. Selaras yg menggunakan pemaksaan bukanlah penyelarasan melainkan pengrusakan. Ada yg dirusak, yaitu kemampuan manusia pribadi per pribadi untuk secara alamiah mencari titik yg paling pas atau selaras bagi dirinya sendiri... Manusia semuanya belajar, dan kemampuan belajarnya beda. Dan kita tidak merasa perlu untuk memaksa orang lain agar selaras menurut pengertian kita. Bukan orang lain yg harus menyelaraskan diri, tetapi kitalah yg harusnya selaras dengan orang lain. Selaras artinya bisa menerima orang lain apa adanya tanpa merasa perlu menuntut agar mereka menyesuaikan diri dengan kita... Agama yg sejati seharusnya seperti itu, memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk mencari dan menemukan titik keselarasan yg paling cocok dengan dirinya.

T = Jika sabar pasti ketemu. Jangan pernah menilai salah atau benar. Senyum saja karena kita sedang memainkan peran kita masing-masing.

J = That's it! Memang seperti itu. Peran. Lakon. Ada guru ada murid. Saat berikutnya sang murid menjadi guru bagi mantan gurunya. Guru dan murid cuma peran saja, pedahal essensinya sama, dzat yg sama. Kita semuanya guru bagi diri kita sendiri. Kita semuanya juga murid, murid dari diri kita sendiri juga.

T = Almarhum ayah abang saya adalah guru spiritual ayah saya. Dan abang saya mengatakan bahwasanya saya akan menemui seorang sebagai mursyid bagi diri saya yang berumur ± 40 tahun di ranah Jawa yg akan membimbing saya secara langsung, dan satu hal lagi setiap kali saya menatap wajah abang saya, maka seakan-akan wajahnya selalu berubah-ubah dan seakan-akan bersinar membuat hati saya terasa teduh.

J = Guru mursyid adalah kesadaran tinggi, adanya di dalam diri anda sendiri. Ketika anda masuk ke dalam kesadaran anda, akan ada yg membimbing anda dari dalam sana. Bisa dibilang sebagai guru mursyid, pedahal cuma kesadaran anda sendiri saja. You are your own guru mursyid di Tanah Jawa.


POSTSCRIPT

Kesempatan di akhir tahun 2009 itu cuma satu-satunya, tidak pernah sebelum dan sesudahnya Joko bertemu dengan temanku yg orang Aceh. Yg amat berkesan baginya dalam perjumpaan itu cuma satu. Temanku yg orang Aceh bercerita, waktu pulang ke Aceh pernah dikejar-kejar oleh polisi syariat di hari Jumat. Dikejar-kejar karena tidak mau sembahyang pada Jumat siang. Ketika digertak, temanku yg orang Aceh tidak mau kalah. Dia balas menggertak: Saya orang Kristen! Sang polisi syariat menuntut untuk melihat KTP. Kalau KTPnya Kristen bisa lolos. Joko cuma tertawa, tidak mau melanjutkan mendengar kisah itu. Mungkin akhirnya temanku yg orang Aceh bisa lolos juga walaupun tanpa mengeluarkan KTP.


(Leonardo Rimba)

8 Jun 2013

Apakah Mesti Meninggalkan Agama?


Mas Joko Tingtong, apakah bila ingin menjadi orang spiritual saya mesti meninggalkan agama yg sekarang saya anut ?

Joko jawab: It's up to you, tergantung dari anda sendiri. Apakah yg anda maksudkan sebagai orang spiritual? Apakah orang spiritual menurut anda adalah orang yg memiliki ilmu sakti untuk berhubungan langsung dengan Allah? Kalau itu definisinya, maka kita semua adalah orang spiritual. Allah adalah kesadaran yg ada di diri semua manusia, baik menggunakan istilah Allah ataupun tidak. Allah bahkan ada di orang yg tidak beragama dan mengaku sebagai komunis sejati. Allah bahkan ada di orang yg menjadi atheist fanatik. Allah bahkan ada di orang yg dilecehkan dengan sebutan kafir, musyrik dan syirik. Allah ada di dalam kesadaran semua manusia. Yg bisa sadar bahwa dirinya sadar adalah Allah yg berdiam di diri manusia. Diluar itu, semuanya adalah Allah buatan.

Allah buatan adalah pemikiran manusia. Pemikiran dan bukan kesadaran. Kesadaran yg saya sebut Allah di diri manusia adalah yg sadar thok itu. Sadar bahwa dirinya sadar, tanpa pernah tahu dirinya siapa, asalnya dari mana, dan akan ke mana. Dia cuma tahu bahwa dia sadar. Full stop.Titik.

Bisa saja anda tetap menganut agama, dan sekaligus mengaku sebagai seorang spiritual, yaitu orang yg melakukan kultivasi kesadaran di dalam dirinya sendiri, belajar memahami apa itu kesadaran, consciousness, dan bagaimana hubungannya dengan segala macam hal yg dipaksakan oleh lingkungannya. Kalau anda kultivasi spiritualitas dengan jujur, maka cepat atau lambat anda akan menyadari bahwa agama lebih banyak memiliki aspek keduniawian daripada kerohanian. Ada simbol-simbol yg digunakan dalam agama, tetapi kebanyakan penganut agama tidak tahu apa makna dari simbol-simbol itu.

Simbol dianggap sebagai hal yg hakiki, pedahal cuma simbol saja. Makna dari simbol ditemukan di dalam kesadaran kita sendiri. Meanings, makna, arti. Dan ketika kita bisa menangkap artinya, maka simbol-simbol bisa saja dilepaskan dan tidak dipegang lagi. Tetapi orang beragama justru dipaksa dengan kasar maupun halus untuk selalu berpegang kepada simbol-simbol itu. Akhirnya yg terjadi adalah pemutar-balikkan.

Kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala.

Agama Katolik Roma sudah eksis selama 2,000 tahun, menjalani jatuh bangun habis-habisan. Perang Salib, perang dengan Protestan, perang dengan Modernisme, perang dengan Komunisme, perang dengan Agnostisme, perang dengan Atheisme,... tetapi gereja tetap bisa bertahan. Bertahan karena ada dogma-dogma dan tradisi. Dan ada pembaharu-pembaharu di dalam gereja Katolik yg bisa melakukan modernisasi dari dalam sehingga gereja bisa bertahan terus sampai sekarang.

Protestantisme juga seperti itu. Apa yg diperjuangkan orang Protestan, yaitu hak asasi manusia untuk bebas beragama apa saja, sekarang telah masuk menjadi bagian dari Piagam Hak Asasi Manusia yg dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Diratifikasi oleh satu dunia, walaupun penerapannya masih tambal sulam. Para pemimpin agama tidak rela kalau pengikutnya membuang agama atau pindah ke agama lain yg lebih manusiawi. Di Indonesia, hak asasi kebebasan beragama paling jauh cuma di bibir saja. Orang dipaksa untuk percaya kepada satu jenis aliran dalam agama, dan aliran lainnya dianggap sesat.

Itu pelecehan HAM, dan masih terjadi di Indonesia sampai detik ini. Penganut Ahmadiyah dianggap sesat. Penganut Saksi Yehovah dianggap sesat. Penganut agama Yahudi tidak diakui. Penganut agama tradisional dipaksa untuk menganut agama resmi.

Bahkan menyatakan ada agama resmi dan ada agama tidak resmi merupakan suatu pelecehan. Agama dibuat oleh manusia, dan bukan oleh negara. Dinyatakan sebagai agama oleh mereka yg menganutnya, dan bukan dinyatakan oleh negara. Negara RI tidak punya hak untuk menyatakan agama resmi dan tidak resmi. Hak dan kewajiban negara RI adalah melindungi semua penganut agama, tanpa membedakannya. Tanpa perlu bilang resmi atau tidak resmi. Tanpa perlu bilang lurus atau sesat. Itu yg dilakukan di negara beradab.

Dalam hal kebebasan beragama, Indonesia masih termasuk negara tidak beradab. Tidak punya sopan santun dalam hal menghormati hak asasi manusia untuk memeluk ataupun menendang agama.

Tapi Joko Tingtong juga mengakui, bahwa beberapa hari terakhir ini sudah ada kemajuan. Sejak SBY menerima penghargaan dari lembaga Yahudi di New York City itu, terasa sudah ada perubahan di udara. Sekarang nampaknya mereka yg ekstrim ingin memaksakan agamanya terpaksa harus masuk lubang persembunyian. Kenapa? Karena SBY sudah dikasih pengertian oleh orang Yahudi; pengertian bahwa menjual agama dengan cara memaksa hanyalah bertujuan uang semata. Kedudukan dan uang bagi mereka yg jualan agama. Presiden SBY mengerti itu, dan nampaknya mulai sekarang akan tegas melarang orang jualan agama dengan cara pemaksaan. Kalau orang tidak mau beli, kalau mau keluar dari agama, atau kalau mau modifikasi agama sehingga dilabel sesat, maka itu merupakan urusan orangnya sendiri. Negara tidak ikut campur. Negara cuma ikut campur kalau ada yg mengganggu ketertiban umum. Itu pengertian Yahudi yg nampaknya baru diterima oleh SBY. Patut kita doakan agar SBY benar-benar mengerti dan menjalankannya, amin.

Apa yg Joko maksud dengan kesadaran adalah kesadaran thok. Sadar bahwa anda sadar. Diluar itu ada yg namanya intuisi atau pengertian yg muncul begitu saja di dalam kesadaran anda. Tetapi pengertian-pengertian itu bukan merupakan bagian dari kesadaran, melainkan bonus. Intuition is bonus. Tambahan belaka. Kalau anda mengamati gereja Katolik, contohnya, anda kan bisa memperoleh intuisi langsung. Anda akan tahu bahwa Yesus yg dikhotbahkan itu hidup di dalam kesadaran anda. Yesus itu kesadaran tinggi di diri anda, your own higher self. Anda bahkan bisa bilang bahwa kesadaran anda adalah Yesus. Namanya kesadaran Kristus. Santo Paulus bilang: Semoga kesadaran yg ada di diri Kristus hidup di dalam kesadaran kamu. Artinya, semoga kita semua bisa tersadarkan bahwa kesadaran kita adalah kesadaran Kristus. Kristus selalu ada. Awal dan akhir. Tidak diciptakan dan tidak bisa mati. Kristus adalah Allah. Karena Kristus seperti itu, maka kita juga seperti itu. Kitalah Kristus. Kitalah bagian dari Allah. Setidaknya gereja Katolik secara implisit mengajarkan bahwa seluruh umat adalah tubuh Kristus, dan Kristus cuma ada satu. Kristus bagian dari Allah. Allah juga cuma satu. Kalau ditarik kesimpulannya, maka kita semua adalah Allah. Kekristenan dari aliran Protestan juga seperti itu pengajarannya. Cuma, tentu saja, bagian yg paling akhir hanya ada secara implisit. Tidak pernah dibuka untuk umum.

Hanya Joko Tingtong yg suka buka rahasia.

Joko juga pernah tulis bahwa alam semesta adalah jagad gede, dan kesadaran kita adalah jagad cilik. Jagad gede= jagad cilik. Cara mengakses alam semesta cuma melalui kesadaran kita saja. Masuk ke jagad gede lewat jagad cilik.

Kalau berbicara tentang alam semesta maka kita harus memiliki dasar yg cukup kokoh, yaitu kesadaran. Kita sadar bahwa kita sadar. Dan itulah yg selama ini Joko tekankan. Kalau kita masih terbelenggu, maka kita tidak akan bisa berbicara tentang alam semesta. Kita akan takut untuk masuk ke dalam kesadaran kita sendiri. Pedahal, cara mengakses energi alam semesta cuma melalui kesadaran kita saja.

Banyak sekali metodenya, dan hampir semuanya masuk dalam label New Age, yg banyak omong kosongnya juga. Tapi kalau bisa memahami essensinya, maka kita akan bisa mengembangkan metode sendiri yg paling cocok untuk kita. Pada umumnya Joko oke saja dengan berbagai aliran New Age, semuanya bertujuan baik untuk membawa penyembuhan bagi alam semesta raya dan alam semesta kecil. Jagad gede dan jagad cilik. Allah besar dan Allah kecil.

Alam semesta bisa dibilang sebagai Allah besar, dan kesadaran kita sebagai Allah kecil. Kita selalu menjadi bagian dari Allah besar. Tanpa perlu puasa dan sembahyang, kita memang sudah menjadi bagian dari Allah. Sudah dari sononya.

Joko pakai pengertian dari Kabalah, ilmu mistik yg didasarkan pada kepercayaan Yahudi dan pemikiran Yunani. Kabalah itu abstrak, sama abstraknya seperti Kundalini. Tetapi Kabalah lebih comprehensive dibandingkan Kundalini. Jadi diasumsikan bahwa kesadaran kita berjalan dari titik 0 sampai 10. Dari yg tak terbatas sampai yg paling terbatas. Dan cara berjalannya selalu zigzag, ke kiri dan ke kanan. Pada akhirnya, segalanya akan stabil atau berada di tengah saja. Keseimbangan dinamis. Ada garis lurus dari atas sampai bawah. Kesadaran kita bisa turun dari atas sampai bawah, dan dari bawah naik ke atas lagi.

Kalau kita tetap saja, maka kita cuma akan menjadi satu titik. Sadar bahwa kita sadar. Itulah kita sebagai Allah kecil yg menyatu dengan Allah besar atau alam semesta. Tetapi ketika itu kita lakoni dalam meditasi, kita bahkan tidak akan berpikir tentang Allah lagi. Kita cuma akan menikmati kesadaran kita saja.

Salah satu doa yg dulu Joko pakai namanya the Qabalistic Invocation of Solomon dari Eliphas Levi, bunyinya sbb:

POWERS of the Kingdom, be beneath my left foot, and within my right hand.
Glory and Eternity touch my shoulders, and guide me in the Paths of Victory.
Mercy and justice be ye the Equilibrium and splendour of my life.
Understanding and Wisdom give unto me the Crown.
Spirits of Malkuth conduct me between the two columns whereon is supported the whole edifice of the Temple.
Angels of Netzach and of Hod strengthen me upon the Cubical Stone of Yesod.
O GEDULAHEL! O GEBURAHEL! O TIPHERETH!
BINAHEL, be Thou my Love!
RUACH CHOKMAHEL, be Thou my Light!
Be that which Thou art, and that which thou willest to be, O KETHERIEL!
Ishim, assist me in the Name Of SHADDAI
Cherubim, be my strength in the Name of ADONAI
Beni Elohim, be ye my brethren in the Name of the Son, and by the virtues of TZABAOTH.
Elohim, fight for me in the Name of TETRAGRAMMATON.
Malachim, protect me in the Name Of YOD HE VAU HE.
Seraphim, purify my love in the Name of ELOAH.
Chaschmalim, enlighten me with the splendours of ELOHI, and of SCHECHINAH.
Aralim, act ye; Auphanim, revolve and shine.
Chaioth Ha-Qadosch, cry aloud, speak, roar, and groan; Qadosch, Qadosch, Qadosch.,
SHADDAI, ADONAI, YOD CHAVAH, EHEIEH ASHER EHEIEH!
Halelu-Yah! Halelu-Yah! Halelu-Yah. Amen.

Joko hapal doa itu yg bertahun-tahun digunakannya sebagai mantera meditasi. Ada pengertian-pengertian kabalistik yg comprehensive terkandung di dalam doa itu. Berbagai nama Allah dari yg paling tinggi sampai yg paling rendah disebutkan disana. Berbagai aspeknya juga. Dan alur energi dari doa ini bergerak zigzag, dari kiri ke kanan, lalu ke kiri lagi, lalu ke kanan lagi. Akhirnya semua seimbang di tengah.

Kalau anda mau bisa pakai doa itu, hapalkan saja, dan mulai pakai saja untuk meditasi. Diucapkan di dalam hati selama meditasi. Meditasinya dengan cara biasa saja, fokus di titik antara kedua alis mata. Atau bisa juga fokus kepada kesadaran anda yg ada di tengah batok kepala.

Anda sadar bahwa anda sadar. Just that!

Dan dari kultivasi kesadaran yg dilakukan secara rutin ini, 30 menit di pagi hari dan 30 menit di malam hari, akhirnya akan muncul sendiri berbagai pengertian di dalam pikiran anda. Namanya intuisi, muncul begitu saja. Akan muncul pula berbagai kemampuan penyembuhan, munculnya juga begitu saja.

Tapi semuanya dimulai dari meditasi atau kultivasi kesadaran.

Sadar bahwa kita sadar.

( Leonardo Rimba )

7 Jun 2013

agama dan negara

Kalau agama menjadi dasar kebijakan negara, siapa yg akan membuat kebijakan? Apakah Allah? Tentu saja bukan. Kebijakan atau keputusan apapun selalu dibuat oleh manusia. Atas nama Allah, tentu saja. Dikonsepkan berasal dari Allah, pedahal itu keputusan manusia. Di negara-negara terbelakang masih seperti itu situasinya. Mereka pakai hukum yg konon diturunkan oleh Allah. Pedahal itu hukum-hukum manusia. Manusia membuat hukum, dan bilang asalnya dari Allah.

Dewa-dewi dalam agama-agama kuno merupakan representasi dari aspek-aspek tertentu di alam semesta. Bisa berupa aspek fisik, misalnya Dewa Matahari. Simbol dari pemberi kehidupan. Bisa juga aspek kejiwaan manusia, seperti Dewa Siwa, simbol dari kesadaran manusia. Dengan kata lain, dewa-dewi ini cuma simbol saja, dan bukan realitas akhir atau hakekat dari apa yg mau dikomunikasikan. Kuno artinya berasal dari jaman dulu. Ada yg sudah punah, ada pula yg masih hidup seperti Hinduisme. Peta saja, dan bukan wilayahnya. God atau Allah merupakan konsep, cara bekerjanya sama seperti konsep dewa-dewi.

Peta pulau Jawa bukanlah pulau Jawa secara fisik. Dewa Siwa sebagai simbol manusia adalah peta. Manusia seutuhnya adalah diri kita sendiri. Kalau mau disimbolkan, harus digunakan banyak dewa-dewi. Ketika kita menyembah Siwa, maka kita menyembah kesadaran kita sendiri saja. Salah satu aspek dari kejiwaan kita, dan yg tertinggi memang. Dari kesadaran itu muncullah segala sesuatu. Muncul dewa-dewi lainnya. Muncul asma-asma Allah.

 Elohim atau Allah yg muncul di bangsa Yahudi lain lagi. Mulanya dikonsepkan bahwa ada Dewa yg berada diluar ciptaannya. Terpisah sama-sekali, dan melakukan penciptaan. Ini konsep asli dari Elohim yg tentu saja berubah terus. Lama kelamaan diperhalus oleh nabi-nabi Yahudi yg muncul setelah Musa. Tetapi konsep dasarnya tetap sama saja, yaitu bahwa ada Dewa yg berada diluar kesadaran manusia. Bahkan diluar alam semesta.

Agama-agama di India, Cina dan Jepang tidak begitu. Disini, ada pengertian bahwa manusia secara fisik dan kesadarannya sekaligus merupakan bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Berkaitan. Dan Dewa yg memberikan hukum-hukum seperti Elohim tidak dikenal. Yg dikenal adalah hukum-hukum alam biasa yg diberikan simbol sebagai Dewa-Dewi. Dewa Bayu untuk simbol angin. Dewa Agni untuk simbol api, dll. Allah di kebudayaan non semitik ini adalah gabungan dari semua dewa dewi itu, dan lebih lagi... karena ada Allah yg tidak terdefinisikan.

Di India disebut Brahman, di Cina disebut Tao.

Di Bali juga ada, dengan simbolnya yg disebut Ongkara.

 Di agama Yahudi, Allah didefinisikan sejak awal mula. Dan diajarkan bahwa Allah ada di luar alam semesta ciptaannya. Allah pegang remote control. Begitu pakemnya. Allah bisa mengirimkan bencana gempa bumi ke Padang sebagai hukuman atas kelakuan Walikota Padang yg memaksa siswi sekolah mengenakan jilbab. Dan kalau walikota Padang masih belum kapok juga, maka bencana demi bencana akan datang terus menerus tidak ada putus-putusnya. Allah menurut konsepsi Yahudi, Nasrani dan Islam selalu seperti itu cara bekerjanya. Allah ada di depan monitor dan siap meledakkan bagian bumi mana saja yg terlalu jahilliyah mau memaksakan syariat. Aceh sudah kena tsunami. Padang kena gempa bumi, dan entah wilayah mana lagi setelah ini.

Alasan bisa dicari-cari, tentu saja. Bisa bilang bencana datang karena memaksakan jilbab. Bisa juga bilang sebaliknya, bencana datang karena tidak pakai jilbab.

What's the difference? Apa bedanya?


(Joko T.)

5 Jun 2013

Kalau Sudah Mengaku Indigo, Artinya Palsu


Intuisi adalah pengertian yg muncul begitu saja di dalam pikiran kita, kita tahu bahwa kita tahu. Walaupun orangnya sumpah kerak keruk, kita akan tahu bahwa dia bohong. Walaupun dia tidak mau bicara, kita akan tahu apa isi pikirannya. Apa yg bisa langsung kita tahu itulah yg dimaksudkan dengan intuisi.

Hipnotis lain lagi, dan jenisnya ada macam-macam. Hipnotis yg dilakukan dengan seijin orangnya namanya hipnotherapi, gunanya untuk penyembuhan berbagai macam penyakit, baik yg asli berasal dari virus maupun dari pikiran orang itu sendiri yg destruktif. Pikiran yg merusak, termasuk delusi atau waham. Penipuan diri sendiri.

Setahu Joko Tingtong, meditasi bukanlah prasyarat mutlak bagi seorang praktisi hipnotherapi. Seorang hipnotherapist cukup melatih kemampuan dirinya untuk rileks dan menurunkan gelombang otaknya sendiri ke level alpha dan theta, yg gunanya untuk menginduksi gelombang otak pasiennya ke gelombang otak yg sama, dan lalu memberikan berbagai macam sugesti yg diharapkan akan bisa membantu penyembuhan.

Seharusnya begitu, tapi kenyataannya tidak. Joko Tingtong merasa para hypnotherapist tidak bisa menurunkan gelombang otak pasien. Kebanyakan tidak bisa. Semuanya masih berada di gelombang otak beta atau frekwensi melek penuh. Kalaupun tekniknya bekerja, hypnotherapi menggunakan berbagai macam akal untuk mengunci jalan pikiran pasien sehingga tidak kembali ke kebiasaan jelek yg ingin dibuang.

Begitu lho, menurut pengalaman Joko!

Penyembuhan total dan langsung merupakan suatu pengecualian, dan sangat wajar bagi teknik hipnotherapi untuk digunakan berulang-ulang sampai hasil yg diinginkan tercapai. Ada juga kemungkinan bahwa hasil yg telah tercapai akhirnya hilang begitu saja karena ternyata sugesti yg diberikan oleh hipnotherapist kalah kuat dengan sugesti yg diberikan oleh si pasien terhadap dirinya sendiri.

Ada yg pernah mencoba untuk melakukan perubahan orientasi seksual dari seorang homo agar menjadi hetero. Hasilnya cukup menggembirakan pada awalnya karena si homosex atau gay itu sudah bisa melirik wanita. Tapi, ketika therapi diteruskan, ternyata efeknya cuma begitu-begitu saja, cuma melirik doang, dan tidak berlanjut ke arah hubungan sex.

Pada pihak lain, orientasi seksual seseorang merupakan hal yg normal saja. Baik hetero, gay, bisex, ataupun asexual merupakan orientasi yg normal. Dan usaha untuk mentherapi seseorang agar orientasi seksualnya berubah tentu saja patut dipertanyakan. Apakah ethis untuk merubah seorang pria hetero menjadi gay? Kalau itu ternyata tidak ethis, maka merubah pria gay menjadi hetero juga tidak ethis, karena kedua orientasi ini sama validnya. Bukan merupakan kelainan jiwa melainkan hal yg normal saja. Bukan sakit jiwa!

Lain halnya kalau orangnya sendiri yg meminta, misalnya ada seorang pria hetero sudah bosan berhubungan sex dengan perempuan, dan sekarang ingin nyobain dengan sesama pria. Dia lalu pergi ke seorang hipnotherapist agar dihipnotis menjadi gay. Itu bisa, tetapi harus atas permintaan orangnya sendiri. Dan belum tentu berhasil. Mungkin paling jauh jadi bisex doang.

Ada lagi hipnotherapist yg bisa melakukan regressi ke kehidupan masa lalu atau past life. Masalah di kehidupan sekarang bisa ditelusuri sebagai berasal dari kehidupan masa lalu. Sayangnya, tidak semua orang bisa diregressi. Kalaupun bisa, apakah benar sesuatu yg dilihat oleh pasien sebagai kehidupan masa lalu itu benar-benar ada? Yg jelas, kita cuma akan di-regressi ke dalam pikiran kita sendiri, dan yg muncul juga cuma simbol-simbol belaka. Dan belum tentu si hipnotherapist bisa mengartikannya, sehingga bisa saja akhirnya terjadi penumpukan takhayul yg tidak mencerdaskan.

Pada pihak lain, yg secara salah kaprah dikenal sebagai kejahatan hipnotis sebenarnya bukanlah hipnotis melainkan gendam. Gendam dilatih dengan cara konsentrasi pada cakra solar plexus ke bawah. Orang yg mengumpulkan energi gendam bisa menghipnotis korbannya untuk memberikan uang, dll. Itu gendam dan bukan hipnotis karena yg digunakan adalah tenaga yg kuat sekali dan berasal dari cakra solar plexus ke bawah. Ini energi naluri dan bukan energi intuisi. Naluri seseorang yg kuat tentu saja bisa mempengaruhi orang lain yg pikirannya melayang dan tidak fokus.

Kalau kita rutin meditasi di cakra mata ketiga, kita tidak akan terpengaruh dengan segala macam gendam. Segala macam hipnotherapi juga tidak akan berpengaruh. Segala teknik rekayasan yg menggunakan kombinasi gendam dan hipnotherapi seperti dipraktekkan di berbagai pelatihan juga tidak akan mempan.

Sebaliknya, dengan meditasi rutin di cakra mata ketiga kita akhirnya akan sadar bahwa kita bisa memilih apa yg kita inginkan dalam hidup. Tanpa perlu membuang uang mahal-mahal buat pelatihan begituan yg menggunakan segala macam teknik rekayasa, kita akan tahu dengan sendirinya apa yg sebenarnya kita mau, dan kita akan pilih apa yg kita mau dengan sadar.

Seorang teman bertanya: Energi indigo dahsyat ya Mas, sampai mereka sombong?

Joko jawab: Energi orang yg tidak stabil jiwanya. Orang yg jiwanya sakit, cari label supaya dianggap tidak sakit. Tapi tetap saja sakit. Kalau mau sembuh, harus buang itu istilah indigo. Saya paling kejam sama anak indigo, karena saya tahu mereka mau manipulasi orang.

Saya tidak bisa dimanipulasi.

Memanipulasi supaya dianggap wah, pedahal biasa saja. Yg bisa lihat hantu bukan cuma anak indigo. Di RS Jiwa rata-rata penghuninya bisa lihat hantu.
Definisi saya, indigo adalah mereka yg mengaku indigo. Cara menyembuhkan keindigoan mudah saja, yaitu buang itu istilah indigo. Tidak usah pakai lagi.
Saya sudah biasa menyembuhkan orang dari keindigoannya. Ada yg berhasil dan jadi sehat. Ada juga yg mau bertahan terus jadi indigo, makin lama makin error. Bahkan dengan konselor berpengalaman seperti saya, tingkat kesembuhan cuma separuh. Mungkin bisa lebih tinggi kalau saya sabar. Tapi saya tidak sabar. Kalau berbicara dengan saya beberapa kali tidak ada hasilnya, maka saya tinggal saja, supaya orangnya dimakan... setan.
Menghadapi orang yg mengaku indigo kiatnya cuma satu, yaitu tegas. Kalau anda tidak tegas, anda akan dimanipulasi. They are expert manipulators, ahli memanipulasi orang, walaupun yg mungkin paling rugi adalah dirinya sendiri. Muter terus, kayak gasing. Dia sendiri yg bikin dirinya muter kayak gasing.
Indigo asli tidak pernah menyebut dirinya indigo. Kalau sudah pakai istilah indigo untuk dirinya sendiri, artinya itu fake. Palsu. Sholat berjamaah saja ada, masa fake berjamaah gak boleh?
Tidak usah menyesal kehilangan orang indigo yg bisa khotbah tentang hidup yg suci dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Di RS Jiwa juga banyak. Cukup banyak orang yg mengaku indigo dan ingin diistimewakan telah saya tendang dari kehidupan saya. Kita harus tegas, tidak ada toleransi terhadap delusi!

Kalau mau gila, gilalah sendiri!

Saya tidak main-main ketika saya bilang bahwa saya kejam terhadap mereka yg mengaku indigo, kata Joko. Saya tahu mereka sakit jiwa. Kalau jiwanya tidak sakit, tidak akan seperti itu kelakuannya. Kalau sakitnya untuk diri mereka sendiri, saya tidak perduli. Tapi kalau mengganggu saya, maka saya usir.
Cukup banyak mereka yg mengaku orang spiritual memiliki jiwa yg sakit. Kalau tidak minta bantuan, saya tidak bantu. Saya tidak ganggu juga. Tapi kalau coba ganggu saya, akan saya tendang. Anda harus tegas terhadap orang yg tidak tahu batas antara kewarasan dan ketidak-warasan. Ya, menurut saya indigo tidak waras. Kalau waras, tidak perlu mengaku indigo.

Cukup menjadi diri sendiri dan, enjoy aja!

(Leonardo Rimba)

2 Jun 2013

Apakah spiritualitas berbanding lurus dengan kesaktian?

T = Apa atheist kenal moralitas dan cinta kasih? Atau hanya hidup sesuai undang-undang yg berlaku di negara bersangkutan?



J = Saya bukan orang atheist, sehingga tidak bisa menjawab itu secara total. Harus orang atheist sendiri yg menjawabnya. Paling jauh saya bisa bilang bahwa moralitas sebagian orang atheist jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan moralitas kaum beragama. Hak Azasi Manusia (HAM) banyak diperjuangkan oleh orang-orang atheist di seluruh dunia sedangkan, kita semua tahu, pelecehan HAM justru banyak dilakukan oleh kaum beragama. Agama-agama itu semuanya menginjak-injak HAM, untungnya sebagian sudah direformasi seperti berbagai aliran Kristen. Kristen Katolik itu paling dahsyat dalam menginjak-injak HAM di masa lalu, tetapi sekarang sudah tercerahkan. Hindu di Bali dulu mempraktekkan sutee, yaitu ajaran yg mendorong bhakti istri kepada suaminya yg meninggal dengan cara terjun bebas ke atas api pembakaran jenazah suaminya. Yg melarang itu dengan tegas adalah Belanda. Belanda banyak mengajarkan orang Indonesia untuk menjadi lebih beradab. Dan orang Belanda terdiri dari segala macam orang, mungkin beragama juga, walaupun agamanya tidak dibawa-bawa. Belanda sekuler dari dulu sampai sekarang, dan mereka menekankan praktek nyata memperbaiki apa yg bisa diperbaiki. Itukah moralitas atheist yg anda maksud? Ataukah piagam HAM dari PBB yg sama sekali tidak membawa-bawa nama Allah? Apakah piagam HAM itu merupakan moralitas atheist yg anda maksud? Apabila ya, maka isinya sangatlah bermoral. Indonesia sudah ratifikasi piagam HAM PBB, sudah masuk ke UUD 45, tetapi prakteknya masih bolong-bolong. Barangkali pemerintah dan pendukungnya berusaha meyakinkan semua orang bahwa Indonesia sudah melindungi hak asasi manusia secara maksimal. Dan kita semua tahu bahwa itu bohong.



T = Apa menurut anda spiritualitas berbanding lurus dengan kesaktian?



J = Kesaktian adalah skill, kemampuan. Kesaktian anda apa? Apakah di bidang software? Apakah dibidang medis? Apakah di bidang teknik listrik? Apakah di bidang seni rupa? Semuanya merupakan kesaktian. Kita semuanya orang sakti, artinya orang yg memiliki skill atau keahlian tertentu. Ada yg kesaktiannya berbicara di depan corong radio sehingga berprofesi sebagai penyiar radio. Ada yg kesaktiannya berjalan di atas cat walk, sehingga menjadi peragawati. Ada yg kesaktiannya bawa mobil gede, sehingga akhirnya berprofesi sebagai sopir truk. Semuanya orang sakti mandraguna. Dan orang spiritual juga. Mereka semuanya orang spiritual, artinya orang yg hidup dan memiliki spirit. Spirit itu roh, tidak terlihat. Semua manusia memiliki bagian kerohanian atau spiritualitas yg tidak terlihat, sehingga semua manusia adalah manusia spiritual. Spiritualitas adalah hal bagaimana si manusia menghayati kesadarannya yg tidak terlihat itu, dan caranya macam-macam. Ada yg mengambil peran dalam agama, ada yg menjadi orang setengah beragama, ada yg memilih untuk keluar dari agama, ada yg netral. Ada yg mengambil filsafat eksitensialisme sebagai medium bagi olah spiritulitasnya, misalnya. Dan itu semuanya sah saja. Semuanya spiritualitas manusia. Termasuk disini atheisme. Atheisme spiritualitas juga karena manusianya tetap punya spirit, tetap memiliki bagian yg tidak terlihat yg disebut roh. Spiritualitas adalah kerohanian, dan ada di semua orang. Spiritualitas dan kesaktian ada di semua orang, walaupun jenisnya berbeda-beda.



T = Apa arti pembunuhan, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya bagi agnostik?



J = Setahu saya hal itu harus ditanyakan sendiri ke orangnya masing-masing. Saya tidak bisa mewakili orang agnostik. Yg saya tahu, pembunuhan adalah pembunuhan. Perampokan adalah perampokan. Dan kriminalitas adalah kriminalitas. Masyarakat harus diatur oleh hukum-hukum yg bisa meminimalkan hal-hal seperti itu. Meminimalkan kriminalitas, dan memperbesar kebebasan manusia untuk melakukan hal-hal yg bermanfaat. Yg bermanfaat adalah kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan menikah tanpa diskriminasi berdasarkan agama, kebebasan berserikat, kebebasan untuk memperoleh informasi tanpa dihalang-halangi. Kesempatan untuk kerja, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kebebasan dan kesempatan untuk berkiprah positif harus diperluas, dan hal-hal yg negatif seperti pembodohan massal harus dipersempit. Itu hal yg umum, semua negara maju berusaha untuk memaksimalkan kesempatan dan kebebasan bagi manusia. Yg selalu dipersempit adalah kesempatan bagi pembodohan massal, seperti dominasi agama dalam pendidikan.



T = Apa arti menolong dan kebajikan bagi agnostik?



J = Saya tidak tahu, anda harus bertanya sendiri langsung kepada orang agnostik. Yg saya tahu, kita bisa menolong orang lain kalau kita mau. Kalau bisa dan mau, sebab tidak semua orang mau menolong orang lain walaupun bisa. Bencana alam di muka bumi ini terjadi berganti-ganti, tetapi yg maju paling depan memberikan bantuan selalu negara-negara yg mayoritasnya orang sekuler. Negara-negara Barat. Sedangkan negara-negara yg mayoritasnya Islam biasanya tidak terdengar memberikan bantuan.



T = Kebanyakan aliran spiritual mengatakan pengekangkang nafsu jasmani berhubungan dengan pengoptimalan potensi kerohanian, tapi tampaknya anda tak sependapat. Boleh berikan alasannya?



J = Kerohanian yg asli akan muncul setelah manusianya jatuh bangun berjalan dari ekstrim ke ekstrim. Siddharta Gautama telah menjalaninya, hidup dari ekstrim ke ekstrim. Pernah hidup mewah di istana, dan pernah menjadi pertapa miskin juga selama bertahun-tahun. Makanya dia bisa bilang bahwa yg paling bagus itu yg biasa-biasa saja. Tidak ekstrim. Bukan penolakan total terhadap napsu tubuh seperti menahan lapar dan haus, atau menahan hasrat sex, tetapi yg biasa-biasa saja. Kalau lapar, ya makanlah. Makannya biasa saja, tidak usah berlebih-lebihan. Kalau haus, ya minumlah. Minumnya juga biasa saja. Kalau horny, ya ngesexlah. Tidak perlu berlebihan, melainkan biasa-biasa saja.


(Joko T.)

Setiap Orang adalah Imam bagi Dirinya Sendiri


Joko Tingtong memperlakukan tiap orang sebagai imam, imam bagi dirinya sendiri. Baik lelaki ataupun perempuan, setiap orang adalah imam bagi dirinya sendiri.

Paulus yg sangat menghebohkan itu menemukan Kristus di dalam kesadaran dirinya sendiri. Makanya Paulus bilang, semoga kesadaran Kristus yg sama tercipta di dalam diri kamu juga. Kalau kamu sadar bahwa Kristus hidup di dalam kesadaran kamu, maka kamu akan bisa bilang abba, father! Sama seperti Yesus yg bilang seperti itu. Seperti Bapa yg hidup di dalam Yesus, maka kesadaran Yesus hidup di dalam kamu juga. Kesadaran Yesus namanya Kristus. Itu inti kekristenan. Tidak perlu pakai agama.

Karena Kristus ada di dalam kesadarannya, maka Joko Tingtong bisa bilang, sebagai seorang laki-laki saya merasa tidak pantas untuk membahas jilbab karena itu busana perempuan. Mereka harus memutuskan sendiri mau pakai busana jenis apa. Perempuan juga punya Kristus di dalam kesadaran mereka.

Mungkin banyak dari anda tidak tahu bahwa separuh dari kekristenan satu dunia menganut prinsip priesthood of all believers, keimaman setiap orang percaya. Setiap orang percaya adalah imam bagi dirinya sendiri. Bebas mengikuti hati nuraninya untuk memutuskan apa yg akan dilakukan dengan hidupnya. Begitulah Protestantisme, yg dianut oleh separuh dunia Kristen.

Entah berapa milyard manusia jumlahnya.

Katolik masih mempertahankan tradisi imam yg disuplai oleh hirarki gereja, dengan alasan tradisi. Protestan kembali ke masa awal dimana setiap orang percaya bebas mengikuti tuntunan Roh Kudus yg hidup di dalam dirinya. Bebas membuat fatwa yg berlaku bagi dirinya sendiri. Dulu berlaku bagi lelaki saja, sekarang bagi perempuan juga. Bagi semuanya, kecuali anak di bawah umur.

Sayangnya orang Indonesia tidak sadar atau tidak mengerti hal ini. Mereka pikir harus minta fatwa pendeta. Tidak begitu. Joko Tingtong anak pendeta Protestan, tidak pernah minta fatwa pendeta. Pendeta mau bilang apa is not my business, kata Joko.

Berikut tanya-jawab antara seorang teman dengan Joko.


T = Apa ada istilah hukum sebab akibat dalam pandangan Anda? Entah itu karma, sunatullah, atau yg lain.



J = Saya menyebutnya sebagai aksi dan konsekwensi. Kalau anda mencuri ayam dan tertangkap basah, maka ada kemungkinan anda akan digebukin massa. Dan anda akan memperoleh julukan sebagai maling ayam. Kalau anda tidak tertangkap, maka anda bisa menikmati ayam itu dalam bentuk sajian makanan. Bisa jadi ayam goreng, bisa jadi opor ayam, bisa juga berupa ayam mentah, kalau anda suka. Bisa juga anda menggunakan ayam hasil curian sebagai komoditi yg dibarter dengan uang. Disini anda sudah masuk ke dunia komersil. Anda mengkomersilkan kemampuan anda mencuri ayam menjadi bentuk moneter atau uang. Uang itu bentuk moneter, a monetary unit which, in this case, bernama rupiah. Rupiah itu bisa anda tukarkan juga dengan bentuk moneter lainnya seperti USD, Yen, Yuan, Ringgit, dll. Dan anda bisa menghasilkan itu semua karena keahlian anda mencuri ayam. Ada aksi ada konsekwensi.



Saya tidak percaya kepada hukum karma!



Kalau anda berbuat sesuatu, maka anda mungkin harus menanggung konsekwensinya. Tetapi itu juga tidak selalu, seperti kita lihat di atas dalam kasus maling ayam yg tidak tertangkap. Hukum karma cuma bisa berdampak bagi manusia yg menginternalisasikan prinsip hukum karma di dalam kesadarannya. Kalau orangnya percaya kepada karma, maka akan timbul perasaan berdosa, misalnya. Bukan berdosa di kehidupan mendatang yg tidak akan pernah bisa terbuktikan, melainkan perasaan berdosa di kehidupan sekarang saja. Jadi, manusia yg merasa berdosa karena berprofesi sebagai maling ayam itu mungkin akhirnya akan sakit ayan. Seperti alam bawah sadarnya sendiri yg memberikan hukuman. Ayam dicolongnya, maka orangnya sakit ayan.



Bagi orang yg tidak menganut kepercayaan tentang karma, kebiasaan nyolong ayam mungkin tidak akan berdampak apapun. Orangnya mungkin akan nyolong ayam sewaktu kepepet, ketika tidak punya uang dan lapar. Setelah itu dia ketagihan karena ternyata dia ahli menangkap ayam orang. Dan itu dijalani bertahun-tahun sampai dia bosan sendiri dan berganti profesi. Misalnya, setelah dia diangkat sebagai satpam resmi di sebuah peternakan ayam di propinsi lain. Setelah dia menjadi satpam di peternakan ayam, kebiasannya nyolong ayam tidak diteruskan. Sekarang dia menjaga ayam-ayam. Dan dia mungkin bisa menjadi seorang satpam yg baik tanpa merasa berdosa karena masa lalunya yg kelam sebagai seorang maling ayam.



Karma itu belief system. Sistem kepercayaan. Kalau dipercaya, maka berjalanlah. Kalau tidak dipercaya, maka tidak akan berjalan. Dan yg namanya kehidupan mendatang juga cuma asumsi saja. Diasumsikan orangnya akan lahir lagi di masa datang. Tapi apa benar demikian? The answer is, kita tidak akan pernah tahu. Kita tidak akan pernah bisa tahu apakah kita akan lahir kembali di masa datang. Sama saja seperti kita tidak akan pernah tahu apakah benar kita pernah lahir di masa lalu. Ini semua cuma kepercayaan belaka yg maksudnya agar manusia bisa teratur dan tidak saling mencuri ayam milik satu sama lain.



T = Apa penyebab berbagai macam penyakit (kanker, leukemia, jantung, liver, dsb), serta kemalangan hidup (miskin, sakit, kecelakaan, dsb)?



J = Penyebab penyakit fisik bermacam-macam. Ada yg disebabkan oleh virus, bakteri, sistem kekebalan yg lemah. Ada gara-gara jatuh di tangga. Ada gara-gara masuk angin. Macam-macam penyebabnya. Kanker juga bisa diakibatkan oleh perasaan menderita selama bertahun-tahun. Orangnya mungkin merasa tersiksa karena ditinggal oleh sang kumbang setelah menghisap madu. Saya bukan pabrik madu, begitu kata sang wanita, dia tidak mau terima kenyataan bahwa dirinya sudah disedot habis-habisan selama beberapa tahun pertama ketika mulai berbunga. Setelah sang kumbang bosan, maka pergilah the kumbang mencari bunga baru. Dan bunga yg mulai melayu menyesali nasibnya habis-habisan. Dan karena menyesali nasibnya, akhirnya tubuhnya menjadi tidak tahan penyakit. Dan masuklah si kanker, baik berupa kanker fisik maupun kanker ghoib alias kantong kering.



Apa yg disebut sebagai kemalangan hidup tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan memuaskan. Dan itulah alasannya sehingga lahir berbagai macam agama dan aliran pemikiran. Semuanya berusaha untuk menjelaskan apa dan mengapa. Mengapa saya lahir miskin dan orang lain lahir kaya? Pemikiran Hindu Buddha aliran lama mencoba menjelaskan bahwa orang kaya adalah mereka yg sudah menumpuk dharma di kehidupan sebelumnya, dan orang miskin adalah mereka yg masih harus membayar karma jelek. As a result, masyarakat Hindu Buddha masa lalu sangatlah kejam. Mereka yg miskin akan dibiarkan miskin karena dipercaya mereka sedang membayar karma. Dan mereka yg miskin akan tetap saja pasrah menerima nasibnya dijajah oleh orang kaya dengan harapan supaya nanti lahir kembali sebagai OKB, orang kaya baru.



Yg namanya kemalangan manusia tidak bisa dilihat dari luar, dan kita cuma bisa menjelaskannya dari dalam. Dan dari dalam itupun relatif, karena manusianya memiliki kepercayaan yg berbeda-beda. Mungkin saja manusianya percaya penuh kepada hukum karma sehingga dia bisa menjelaskan kemalangannya sendiri dengan menggunakan prinsip hukum karma. Bagi orang yg tidak percaya karma, dia akan mencoba menjelaskan kemalangannya berdasarkan pemikiran berbeda, misalnya pemikiran bahwa Allah memberikan cobaan. Kalau Allah memberikan cobaan dan manusianya tabah, maka nanti setelah mati akan masuk Sorga. Dan penderitaan di dunia ini tidak seberapa dibandingkan Sorga, begitu jalan pikirannya.



Ada pula yg menggunakan pemikiran eksistensialis, bahwa hidup ini hanyalah eksistensi disini dan saat ini saja. Kita tidak akan pernah bisa tahu dengan memuaskan kenapa segalanya itu terjadi. Kita bisa menerima bahwa ada randomness (probabilitas acak). Muncul tsunami begitu tiba-tiba di Aceh dan menewaskan lebih dari satu juta orang. Pedahal semua yg menjadi korban boleh bilang orang beragama. Percaya penuh kepada Allah. Dan ternyata kepercayaan kepada Allah tidak bisa menyelamatkan orang dari Tsunami. Ternyata segalanya random, acak, terjadi begitu saja tanpa pilih kasih. Baik atheist ataupun beragama, semuanya mati dengan sia-sia. Dan yg bisa kita lakukan hanyalah memberikan pertolongan sebisa kita.



T = Kemana kesadaran kita setelah tubuh ini mati? We both agree that we're immortal, right? But where to?



J = Saya tidak tahu akan ke mana kesadaran saya setelah saya mati. Yg namanya kesadaran cuma sadar thok. Sadar bahwa kita sadar. Aware of being aware. Penyakit datang dan pergi, kemalangan datang dan pergi, tetapi awareness tetap. Kesadaran tetap.



We are always aware of being aware. Try to get into the awareness, and all those questions will stop!You will only be aware of being aware. That awareness is you, the real you who experience all things. But these all things come and go while your awareness remains. You remain aware of being aware. In my opinion that was the pencerahan that Buddha had. Cuma segitu aja, and no more than that.



Diluar itu, semuanya yg ada hanyalah belief system belaka, kepercayaan bahwa kita akan lahir kembali di kehidupan berikutnya. Kepercayaan bahwa kita akan masuk Neraka atau Sorga. Kepercayaan bahwa kita akan lahir kembali di rasi bintang antah berantah, dll. Cuma kepercayaan belaka dan manfaatnya bisa dilihat dalam hidup ini juga. Buddha tidak bisa tahu kesadarannya akan kemana setelah dia mati. Dia cuma bisa mengajarkan bahwa manusia bisa sadar bahwa dirinya sadar. Sadar disini dan saat ini saja.



T = Teori monyet menjadi manusia yang anda kemukakan, saya ingin tahu mengapa sisa-sisa monyet yg ada sejak ribuan bahkan jutaan tahun lalu belum berubah menjadi apa-apa?



J = Saya belum pernah berteori monyet menjadi manusia. Monyet adalah monyet, dan manusia adalah manusia. Memang ada yg mirip manusia, yaitu monyet bonobo, tetapi tetap saja monyet dan bukan manusia. Homo sapiens di satu bumi ini satu species, dan yg berbeda cuma warna kulitnya saja, varietasnya saja. Nenek moyangnya pasti satu pasang, atau paling tidak satu kelompok kecil. Yg jelas itu bukan Adam dan Hawa, yg kita semua tahu cuma mitos belaka. Orang Timur Tengah memiliki mitos penciptaan bumi dan langit oleh Allah. Orang Hindu Buddha memiliki mitos berbeda. Di Cina juga ada mitos serupa. Di semua budaya yg terpisah ternyata ada mitos asal usul manusia. Mitos tetap tinggal mitos dan tidak bisa menjadi kenyataan fisik. Kenyataan fisik memperlihatkan bahwa manusia sudah ada sejak, mungkin, sejuta tahun yg lalu, walaupun mungkin bentuknya tidak sama persis. Mungkin juga yg sudah ditemukan fosilnya bukan nenek moyang kita, melainkan manusia dari species lain yg sekarang sudah punah. Kita tidak tahu pasti sekarang, penelitiannya masih berjalan terus. Dan tentu saja kita bisa berspekulasi bahwa ada ras Alien dari planet lain yg datang dan membudi-dayakan ras manusia. Bisa saja. Walaupun tetap tidak bisa dibuktikan, dan akhirnya jatuh dalam kategori belief system juga. Belief system itu dugaan yg dipercaya penuh. Diimani. Sama seperti kepercayaan tentang Adam dan Hawa yg diimani dalam agama. Apakah benar ada Adam dan Hawa tentu saja soal lain.



T = Apa atheist kenal moralitas dan cinta kasih? Atau hanya hidup sesuai undang-undang yg berlaku di negara bersangkutan?



J = Saya bukan orang atheist, sehingga tidak bisa menjawab itu secara total. Harus orang atheist sendiri yg menjawabnya. Paling jauh saya bisa bilang bahwa moralitas sebagian orang atheist jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan moralitas kaum beragama. Hak Azasi Manusia (HAM) banyak diperjuangkan oleh orang-orang atheist di seluruh dunia sedangkan, kita semua tahu, pelecehan HAM justru banyak dilakukan oleh kaum beragama. Agama-agama itu semuanya menginjak-injak HAM, untungnya sebagian sudah direformasi seperti berbagai aliran Kristen. Kristen Katolik itu paling dahsyat dalam menginjak-injak HAM di masa lalu, tetapi sekarang sudah tercerahkan. Hindu di Bali dulu mempraktekkan sutee, yaitu ajaran yg mendorong bhakti istri kepada suaminya yg meninggal dengan cara terjun bebas ke atas api pembakaran jenazah suaminya. Yg melarang itu dengan tegas adalah Belanda. Belanda banyak mengajarkan orang Indonesia untuk menjadi lebih beradab. Dan orang Belanda terdiri dari segala macam orang, mungkin beragama juga, walaupun agamanya tidak dibawa-bawa. Belanda sekuler dari dulu sampai sekarang, dan mereka menekankan praktek nyata memperbaiki apa yg bisa diperbaiki. Itukah moralitas atheist yg anda maksud? Ataukah piagam HAM dari PBB yg sama sekali tidak membawa-bawa nama Allah? Apakah piagam HAM itu merupakan moralitas atheist yg anda maksud? Apabila ya, maka isinya sangatlah bermoral. Indonesia sudah ratifikasi piagam HAM PBB, sudah masuk ke UUD 45, tetapi prakteknya masih bolong-bolong. Barangkali pemerintah dan pendukungnya berusaha meyakinkan semua orang bahwa Indonesia sudah melindungi hak asasi manusia secara maksimal. Dan kita semua tahu bahwa itu bohong.



T = Apa menurut anda spiritualitas berbanding lurus dengan kesaktian?



J = Kesaktian adalah skill, kemampuan. Kesaktian anda apa? Apakah di bidang software? Apakah dibidang medis? Apakah di bidang teknik listrik? Apakah di bidang seni rupa? Semuanya merupakan kesaktian. Kita semuanya orang sakti, artinya orang yg memiliki skill atau keahlian tertentu. Ada yg kesaktiannya berbicara di depan corong radio sehingga berprofesi sebagai penyiar radio. Ada yg kesaktiannya berjalan di atas cat walk, sehingga menjadi peragawati. Ada yg kesaktiannya bawa mobil gede, sehingga akhirnya berprofesi sebagai sopir truk. Semuanya orang sakti mandraguna. Dan orang spiritual juga. Mereka semuanya orang spiritual, artinya orang yg hidup dan memiliki spirit. Spirit itu roh, tidak terlihat. Semua manusia memiliki bagian kerohanian atau spiritualitas yg tidak terlihat, sehingga semua manusia adalah manusia spiritual. Spiritualitas adalah hal bagaimana si manusia menghayati kesadarannya yg tidak terlihat itu, dan caranya macam-macam. Ada yg mengambil peran dalam agama, ada yg menjadi orang setengah beragama, ada yg memilih untuk keluar dari agama, ada yg netral. Ada yg mengambil filsafat eksitensialisme sebagai medium bagi olah spiritulitasnya, misalnya. Dan itu semuanya sah saja. Semuanya spiritualitas manusia. Termasuk disini atheisme. Atheisme spiritualitas juga karena manusianya tetap punya spirit, tetap memiliki bagian yg tidak terlihat yg disebut roh. Spiritualitas adalah kerohanian, dan ada di semua orang. Spiritualitas dan kesaktian ada di semua orang, walaupun jenisnya berbeda-beda.



T = Apa arti pembunuhan, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya bagi agnostik?



J = Setahu saya hal itu harus ditanyakan sendiri ke orangnya masing-masing. Saya tidak bisa mewakili orang agnostik. Yg saya tahu, pembunuhan adalah pembunuhan. Perampokan adalah perampokan. Dan kriminalitas adalah kriminalitas. Masyarakat harus diatur oleh hukum-hukum yg bisa meminimalkan hal-hal seperti itu. Meminimalkan kriminalitas, dan memperbesar kebebasan manusia untuk melakukan hal-hal yg bermanfaat. Yg bermanfaat adalah kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan menikah tanpa diskriminasi berdasarkan agama, kebebasan berserikat, kebebasan untuk memperoleh informasi tanpa dihalang-halangi. Kesempatan untuk kerja, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kebebasan dan kesempatan untuk berkiprah positif harus diperluas, dan hal-hal yg negatif seperti pembodohan massal harus dipersempit. Itu hal yg umum, semua negara maju berusaha untuk memaksimalkan kesempatan dan kebebasan bagi manusia. Yg selalu dipersempit adalah kesempatan bagi pembodohan massal, seperti dominasi agama dalam pendidikan.



T = Apa arti menolong dan kebajikan bagi agnostik?



J = Saya tidak tahu, anda harus bertanya sendiri langsung kepada orang agnostik. Yg saya tahu, kita bisa menolong orang lain kalau kita mau. Kalau bisa dan mau, sebab tidak semua orang mau menolong orang lain walaupun bisa. Bencana alam di muka bumi ini terjadi berganti-ganti, tetapi yg maju paling depan memberikan bantuan selalu negara-negara yg mayoritasnya orang sekuler. Negara-negara Barat. Sedangkan negara-negara yg mayoritasnya Islam biasanya tidak terdengar memberikan bantuan.



T = Kebanyakan aliran spiritual mengatakan pengekangkang nafsu jasmani berhubungan dengan pengoptimalan potensi kerohanian, tapi tampaknya anda tak sependapat. Boleh berikan alasannya?



J = Kerohanian yg asli akan muncul setelah manusianya jatuh bangun berjalan dari ekstrim ke ekstrim. Siddharta Gautama telah menjalaninya, hidup dari ekstrim ke ekstrim. Pernah hidup mewah di istana, dan pernah menjadi pertapa miskin juga selama bertahun-tahun. Makanya dia bisa bilang bahwa yg paling bagus itu yg biasa-biasa saja. Tidak ekstrim. Bukan penolakan total terhadap napsu tubuh seperti menahan lapar dan haus, atau menahan hasrat sex, tetapi yg biasa-biasa saja. Kalau lapar, ya makanlah. Makannya biasa saja, tidak usah berlebih-lebihan. Kalau haus, ya minumlah. Minumnya juga biasa saja. Kalau horny, ya ngesexlah. Tidak perlu berlebihan, melainkan biasa-biasa saja.

[Leonardo Rimba Kedua (Notes)]