22 Des 2014

Kalau Begitu yg Diturunkan Oleh Allah Apa?

 Anda perhatikan, koruptor-koruptor itu banyak yg dekat dengan lembaga keagamaan. Kemungkinan penyumbang terbesarnya. Saya tidak heran karena saya mengerti sejarah dunia. Bukan cuma di tempat terbelakang yg bernama Indonesia ini, tetapi di bagian dunia lainnya yg sudah lebih dahulu maju. Ketika mereka terbelakang, mereka seperti kita. Ada simbiosis antara koruptor dan ulama. Sekarang sudah tobat, makanya jadi masyarakat makmur. Anda belum tobat, makanya dikasih koruptor terus oleh Allah. Allah menghasilkan korupsi apabila ada agama resmi dan agama liar. Negara memberikan kesempatan bagi penggaruk uang untuk membungkam mulut anda lewat ulama yg dibayar pakai uang. Dan anda takut, makanya anda diam saja sampai sekarang. Bilang ini semua cobaan dari Allah.

oleh Leonardo Rimba

Jangan anda pikir saya silau dengan agama. Tidak ada pengaruhnya bagi saya segala macam ayat yg anda kutip itu. Walaupun anda bilang berasal dari Allah, saya tahu itu buatan manusia. Yg sama persis dengan anda dan saya. Korbannya sudah tidak terhitung. Korban agama. Anda tinggal ikut saja MLM yg pakai Allah, dan tinggal goyang bibir jahat anda sampai berbusa. Dilanjutkan dengan menuai pahala anda di dunia berupa penghargaan setinggi-tingginya oleh Majelis Ulama. Anda dianggap manusia bermoral menurut kriteria agama. Karena kemunafikan anda sudah maksimum. Tidak bisa lebih lagi. Titik tertinggi sebelum anda korslet sedikit dan tinggal dikurung di Rumah Sakit Jiwa. Sekarang inipun jiwa anda sudah sakit, tapi anda pura-pura sehat. Masih mau mengelak? Anda pikir saya tidak bisa membaca isi hati anda. Yg terbuka seperti etalase toko. Sesungguhnya anda tidak percaya diri, dan ingin dihormati. Sekaligus dianggap punya kelebihan. Memang ada, kelebihan anda cuma satu, yaitu tidak punya kemaluan. Urat malu anda sudah putus. Anda tega menipu sesama manusia. Segala macam ayat buatan manusia anda bilang berasal dari Allah. Dasar manusia kemaruk. Belajar dulu dari dasar. Masuk Sekolah Dasar yg benar, yg mengajarkan bahwa segala macam ayat adalah hasil budaya manusia. Peradaban manusia. Bukan diturunkan pakai tambang oleh Allah. Atau dihantarkan oleh malaikat sebagai kurir jasa titipan kilat.

T = Kalo begitu yg diturunkan oleh Allah apa?

J = Tanya sendiri sama Allah, jangan tanya saya. Yg saya perhatikan gerak alam, kemana arahnya alam mau bergerak. Ada banyak aspeknya, dan tiap aspek punya pergerakannya. Bukan menyembah dan memuja-muji segala macam berhala, baik yg disebut Tuhan asli maupun Tuhan palsu. Yg seperti itu untuk mereka yg berada di tingkat dasar, atau yg ditakdirkan untuk selamanya di tingkat dasar. Untuk yg lebih dewasa modusnya lain. Bisa amburadul saya kalau tetap pakai modus kelas dasar. Berantakan semuanya. Segalanya serba terbalik.

Anda perhatikan, koruptor-koruptor itu banyak yg dekat dengan lembaga keagamaan. Kemungkinan penyumbang terbesarnya. Saya tidak heran karena saya mengerti sejarah dunia. Bukan cuma di tempat terbelakang yg bernama Indonesia ini, tetapi di bagian dunia lainnya yg sudah lebih dahulu maju. Ketika mereka terbelakang, mereka seperti kita. Ada simbiosis antara koruptor dan ulama. Sekarang sudah tobat, makanya jadi masyarakat makmur. Anda belum tobat, makanya dikasih koruptor terus oleh Allah. Allah menghasilkan korupsi apabila ada agama resmi dan agama liar. Negara memberikan kesempatan bagi penggaruk uang untuk membungkam mulut anda lewat ulama yg dibayar pakai uang. Dan anda takut, makanya anda diam saja sampai sekarang. Bilang ini semua cobaan dari Allah.

T = Ketika iman seseorang kuat dia tidak mungkin melakukan tindakan korupsi atau perbuatan yang merugikan dirinya atau orang lain.

J = Teorinya memang begitu, prakteknya anda semua tahu.
Kalau anda tidak tahu, akan saya kasih satu bocoran atau contoh. Satu kata yg paling berperan meningkatkan kadar sakit jiwa manusia Indonesia adalah kata "harus". Sejak kecil kita diharuskan untuk menurut. Untuk mengerti. Untuk menerima. Bukan orang yg lebih tua yg harus mengerti, tetapi yg lebih muda yg harus mengerti yg lebih tua. Itu adat Nusantara yg bikin gila. Setidaknya seperti itulah yg saya rasakan. Saya harus mengerti orang tua, dan orang tua tidak harus mengerti saya. Saya harus mengerti pemerintah, dan pemerintah tidak harus mengerti saya. Saya harus mengerti agama, dan agama tidak harus mengerti saya. Lalu saya ini apa? Saya dianggap orang yg paling bisa mengerti. Ternyata saya jadi orang tua, dan lainnya anak kecil. Saya harus memperlakukan orang tua seolah-olah barang pecah belah yg sensitif sekali. Pemuka agama juga begitu, harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Mereka semuanya anak kecil. Saya jadi orang tua mereka. Karena mereka tidak mau belajar untuk mengerti manusia. Mereka maunya dimengerti. Dihormati. Dilayani. Dihargai. Tapi tidak mau atau tidak bisa sebaliknya. Realitanya seperti itu. Dan yg seperti inilah yg saya sebut pengalaman spiritual pribadi. Karena saya dihadapkan dengan beban berupa segala macam keharusan yg begitu berat, termasuk tipu-tipu. Orang tua yg menipu, ulama yg menipu. Pakai ancaman palsu, janji palsu, alamat palsu. Semuanya serba palsu. Saya jadi tahu, ternyata yg jadi sasaran adalah saya sendiri. Diharuskan untuk mengerti dan menghamba kepada begitu banyak tokoh sensitif. Harus dilindungi oleh saya karena mereka rapuh. Saya dianggap yg kuat. Mereka yg lemah. Mungkin masih seperti itu sampai sekarang. Tapi saya sudah beda. Saya tidak mau berpura-pura. Kalau orang sudah tua mau seperti anak kecil kelakuannya, maka perlakukanlah seperti anak kecil. Dibanting saja. Biarpun nangis sampai menjerit-jerit. Saya bisa seperti itu kepada orang tua karena mereka kelakuannya seperti itu kepada saya. Saya bisa seperti itu kepada penjual agama, karena yg jualan agama juga seperti itu. Semuanya anak kecil, dan saya sendiri yg orang dewasa.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar