17 Jul 2014

konsep



Dalam tradisi Samawi, yg namanya Sorga dan Neraka merupakan konsep yg relatif baru. Ini konsep yg paralel dengan konsep reinkarnasi dan moksha dalam agama-agama India (Hindu, Buddha). Berkaitan dengan konsep Sorga dan Neraka, ada yg namanya dosa dan pahala. Jadi, kalau pahala anda lebih banyak maka anda akan masuk Sorga. Dan kalau dosa anda lebih banyak, maka anda akan masuk Neraka. Berkaitan dengan konsep reinkarnasi, ada yg namanya karma dan dharma. Kalau karma anda lebih banyak daripada dharma anda, maka anda akan lahir kembali ke dunia. Lahir dan mati bergantian sampai akhirnya dharma anda telah cukup untuk bisa meninggalkan alam fisik dan moksha. Moksha artinya tidak dilahirkan kembali.
Kedua konsep ini sebenarnya cuma mau mengatur tata cara bermasyarakat. Mungkin kita bisa pakai istilah syariat di sini. Ada syariat Yahudi, syariat Nasrani, syariat Islam, syariat Buddha, syariat Hindu. Kalau masyarakat tetap statis, tidak berubah, segala macam syariat itu bisa saja diterapkan. Masalahnya, kita sekarang berada di masyarakat paska modern di mana kita tahu bahwa kita semua manusia bebas, yg memiliki HAM (Hak Asasi Manusia). Karena kita memiliki HAM, artinya kita bisa memilih mau pakai konsep apa dalam hidup kita sendiri. Kita tidak bisa memaksakan penerapan ajaran agama di dalam domain publik atau kehidupan kemasyarakatan.
Kalau kita mau memaksakan ajaran agama dalam kehidupan kemasyarakatan, jadinya akan seperti abad kegelapan di Eropa.
Agama Jawa itu agama universal, tidak perduli dengan segala macam kitab suci. Kalaupun ada rujukan kepada kitab suci seperti ucapan kalimosodo dsb, maka yg diuraikan adalah arti filsafatnya, arti essensinya, dan bukan arti harafiah. Budaya Jawa itu sinkretik dalam arti mengakomodir segala macam yg masuk. Kalaupun ada yg asli, yg asli adalah kemampuan untuk melakukan sinthesis dari berbagai macam pemikiran.
Ada kepercayaan terhadap leluhur dan alam semesta sebagai budaya Jawa yg benar-benar asli.
Setelah itu muncul Hindu dengan kepercayaan kepada berbagai dewa dewi, yg tidak lain dan tidak bukan merupakan konsep saja. Dewa Bayu itu konsep elemen udara. Dewa Surya itu konsep tentang matahari. Dewi Ratih itu konsep tentang bulan, dsb.
Lalu muncul ajaran Buddha yg mengajarkan bahwa semua manusia itu potensial menjadi Buddha juga kalau mau menerapkan ajaran budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Dan mulailah era budi pekerti dalam masyarakat Jawa. Bukan lagi hanya terhadap keluarga dan sahabat dekat saja, tetapi welas asih itu juga sekarang diterapkan untuk tetangga dan warga kampung sebelah.
Lalu masuk Islam dengan konsepnya tentang ukhuwwah, persaudaraan. Sultan Agung berpikir bahwa ber-ukhuwwah dengan Turki dan jajahannya akan bisa membantunya menjadi panembahan bagi seluruh Pulau Jawa, ternyata tidak. Tetapi sudah tanggung, Islam sudah masuk, dan konsep ukhuwwah itu akhirnya diterima juga dengan catatan. Ada yg saudara, dan ada yg musuh.
Ukhuwwah sesama muslim melebarkan sayap kesadaran Jawa sehingga tidak hanya sebatas dengan mereka yg ber-bahasa Jawa saja, melainkan juga dengan mereka yg beragama Islam, apapun bahasanya.
Lalu masuk Nasrani dengan konsepnya tentang persaudaraan seluruh umat manusia. Allah itu bapak, dan seluruh manusia itu anak-anaknya. Dan yg paling penting dari Nasrani adalah konsepnya tentang Hak Asasi Manusia.
Kebudayaan Jawa mengamati dengan jelas segalanya itu, dari era animisme dinamisme, era Hindu, era Buddha, era Islam, era Nasrani, dan bahkan sampai era Spiritual.
Spiritualitas modern sudah masuk ke Pulau Jawa bahkan ketika Belanda masih bercokol di Indonesia. Madame Blavatsky, aliran Theosophi, dan berbagai varian-nya sudah memiliki ribuan pengikut di Jawa ketika Belanda ditendang dan Jepang masuk. Aliran Theosophi adalah salah satu pendorong dari gerakan Hak Asasi Manusia, walaupun tidak langsung, yg akhirnya membuahkan Piagam HAM Universal oleh Perserikatan Bangsa Bangsa di tahun 1948.
Dan kebudayaan Jawa tetap eksis, men-sinthesis-kan segalanya, bahkan sampai saat ini dan entah sampai kapan lagi. So, segalanya itu sambung menyambung dan kita tidak bisa stop dan berkutat di satu tahapan saja.
Tetapi ada pengalaman-pengalaman manusiawi, emosi-emosi, pemikiran-pemikiran, hubungan-hubungan antar manusia juga. Dan ini semua merupakan bagian dari "pengalaman" Tuhan dan disimpan di dalam memory kita manusia. Ada memory kita pribadi, dan ada memory orang-orang lainnya yg bisa juga kita "sadap" kalau kita mau.
Memory manusia sifatnya astral, bisa di-akses juga kalau kita mau kontemplasi. Anda bisa kontemplasi tentang Sidharta Gautama, dan anda bisa akses pikiran yg ada di dalam kesadarannya. Anda bisa kontemplasi tentang Yesus, tentang Sultan Agung, bahkan tentang Daendels yg menyatukan Pulau Jawa secara fisik dengan jaringan transportasinya dari Anyer sampai Panarukan. Coba saja kalau mau.
Tapi itu tidak berarti bahwa anda pernah hidup sebagai orang itu, walaupun anda juga tidak dilarang untuk mengaku sebagai reinkarnasi dari Sultan Agung, Daendels, Snouck Hurgronye, Ibu Kartini, Cleopatra, dll.
Reinkarnasi itu belief system, sistem kepercayaan, dan selama tidak membahayakan manusia lainnya tentu saja bisa di-kultivasi juga.
(e-book)

11 Jul 2014

sejarah agama

T = Semua agama yg ada, termasuk agama samawi itu semuanya lahir di bumi, yg menciptakan juga manusia sendiri. Diibaratkan agama adalah anak-anak yg lahir dari sebuah keluarga. Kebanyakan anak ke 2, ke 3,ke 4 dan seterusnya itu pasti lebih sempurna/lebih pintar dari anak pertama. Katakanlah anak pertama adalah Hindu, lalu Budha, lalu Kristen/kembar, lalu Islam. Kalo menurut adat & budaya kemanusian.. Biarpun yg lebih muda lebih sempurna tapi tetap aja harus menghormati yg lebih tua. Dan biarpun yg tua gak sempurna tapi tetep aja yg tua itu lebih bijak, lebih dewasa dan lebih tenang bila dibandingkan dengan yg muda. Tapi kenyataannya yg terjadi tidak seperti itu. Yg lebih muda, yg merasa lebih sempurna dan yg merasa mendapat anugrah serta jaminan lebih dari orang tua karena paling muda/kecil justru malah jadi pemaksa dan lupa akan hormat pada yg lebih tua. Itulah gambaran hubungan antar umat di Indonesia sekarang ini.
J = Saya tidak setuju dibilang Islam sebagai turunan termuda dari Yudaisme. Mungkin benar seperti itu di abad ke 7 M. Tetapi setelah itu Islam mandeg. Mungkin cuma berjaya selama 200 tahun saja, dan setelah itu dibekukan. Penggunaan akal pikiran diharamkan. Akhirnya sekarang menjadi yg paling terbelakang karena Yudaisme dan Kekristenan jalan terus, selalu memperbaharui diri. Bahkan sudah menjadi sekuler. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia adalah turunan langsung dari Yudaisme dan Kekristenan. Turunan yg sekuler. Begitu pula sosialisme, yaitu paham keadilan sosial bagi rakyat.
Pemikiran seperti saya mungkin dianggap terlalu tinggi buat orang kebanyakan, pedahal tidak. Pada kenyataannya, dunia kita saat ini memang kelanjutan dari Kekristenan. Ini dunia Kristen kalau mau dilihat dari satu sudut pandang. Bisa pula dibilang dunia sekuler kalau kita allergi terhadap istilah keagamaan. Yg jelas, memang turunan dari Kekristenan yg diperbaharui terus. Islam ketinggalan ratusan tahun di belakang. Akibatnya sekarang mereka yg berada di lembaga-lembaga keagamaan Yahudi dan Kekristenan selalu berusaha menunjukkan wajah simpatik kepada Keislaman. Yahudi dan Kristen tahu, bahwa Islam saat ini seperti mereka juga ratusan tahun yg lalu. Untuk Yahudi dan Kristen sudah menjadi bagian masa lalu. Untuk Islam masih menjadi tantangan yg tetap harus dilewati sendiri tanpa bantuan orang lain. Tantangan untuk terus-menerus memperbaharui diri supaya tetap relevan.
 Agama tidak langsung jadi, melainkan lewat proses juga. Sudah pakai nama berbagai Dewa Dewi, sampai akhirnya dijadikan satu saja oleh orang Yahudi. Lahirlah Monotheisme. Dari situ menurun jadi Kekristenan dan Islam. Tidak semata-mata Timur Tengah, melainkan pakai campuran dari Yunani dan India juga. Yunani dan India masih satu keturunan dari Sumeria. Setidaknya pemikirannya sama. Di India namanya Siwa, di Yunani namanya Zeus.
Di Timur Tengah menjadi El dengan segala variasinya, termasuk Allah.
Tapi itu juga tidak final karena tradisi Yahudi-Kristen berkembang terus, bahkan sampai detik ini. Dari gurun pasir, kawin campur dengan sepupunya yg Yunani. Pakai perhiasan berupa cara berpikir logis yg diaktifkan oleh sistem bilangan dari Hindu India. Semuanya hibrida. Blasteran. Campuran. Tidak ada yg asli. Dan tidak bisa dipatok mati di masa lalu.
T = Tauhid secara bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
J = Allah adalah kesadaran anda sendiri, yg sadar bahwa dirinya sadar. Itu definisi dari saya, gratis untuk anda yg mau jujur dan melepaskan diri dari jerat agama. Kalau anda tidak mau terima, dan masih mau mencari Allah di agama, maka itu urusan anda sendiri. Resiko dan bebannya anda yg tanggung. Itu hidup anda sendiri.
T =   Saya sadar kalo saat ini lagi tidak punya uang.  
J =  Bukan itu yg saya maksud dengan kesadaran. Kesadaran adalah yg sadar bahwa dirinya bisa sadar tidak puya uang, bisa sadar sedang lapar, bisa sadar sedang segala macam, mau segala macam, dan tidak mau segala macam. Singkatnya, sadar bahwa dirinya sadar. Sadar thok.
Tuhan atau Allah cuma konsep saja. Anda bisa jungkang-jungking menyembah konsep, itu urusan anda sendiri. Asal anda tidak ganggu orang lain, anda berhak melakukannya. Saya pakai konsep Allah sebagai kesadaran manusia. Valid untuk yg mau pakai. Tidak perlu diperdebatkan. Kalau mau lebih netral lagi, kita bisa tidak usah pakai konsep Allah. Tidak perlu menyebut-nyebut Allah. Sama saja, tidak ada bedanya. Banyak manusia yg tidak pakai konsep Allah bisa hidup biasa saja tanpa kekurangan sesuatupun.
T = Agama adalah sekolah kepribadian, tak ubahnya seperti TK, SD, SMP, SLTA ato SMK. Bila terus bergelut di dunia agama apa lagi ngributin agama atau tauran agama itu tak beda dengan tauran sekolah ato memang siswanya yang agak lambat sehingga gak pernah tau kapan lulusnya.
J = Kurikulum sekolahnya memang dirancang agar muridnya tidak lulus-lulus.
(Leonardo R.)

Please don’t be afraid !

  Images tentang segala malaikat dan iblis, dewa dewi dan para dhemits, memang merupakan proyeksi dari apa yg ada di dalam pikiran kita sendiri. So, proyeksi itu akan berbeda tergantung dari belief system anda yg mana. Kalau anda memiliki belief system Hindu, maka memang anda akan melihat dewa dewi Hindu yg kita semua tahu very glamorous. Pokoknya glamour deh. Ada kalungan bunga dan sebagainya, dan baunya itu wangiiii sekaleh. Kalau anda sayang sama Dewi Kuan Im, maka anda juga akan melihat sang Dewi yang selalu anggun. Bukan Anggun C. Sasmi, melainkan Dewi Kuan Im yg anggun. Kuan Im ini seorang Buddha yg sudah bersumpah tidak mau masuk Nibbana/Nirvana sebelum semua manusia masuk. Jadi, kalau anda masih berada di Roda Kehidupan mengumpulkan dharma dan menghindari kharma, maka Kuan Im akan selalu menemani anda sampai akhirnya anda bebas dari segala penderitaan dan masuk ke dalam Nibbana. Bye bye world, saya sudah masuk Surga!
Tetapi ada juga mereka yg memiliki background Islam ternyata melihat Yesus. Mereka yg memiliki latar belakang Katolik, ternyata melihat Sayiddina Ali. Mereka yg memiliki latar belakang HIndu ternyata melihat Buddha. Ternyata di dalam alam kesadaran manusia yg memiliki latar belakang berbeda itu,… semuanya itu berbaur. Saya sendiri memiliki banyak kesaksian yg berasal dari teman-teman yg menceritakan “pertemuan” dengan Yesus. Ternyata Yesus itu muncul di banyak kesadaran manusia tanpa memperdulikan latar belakang agama orangnya. Kuan Im juga bisa muncul dimana saja. Buddha Sakyamuni (yg seperti di Candi Borobudur itu) juga bisa muncul di kesadaran siapa saja tanpa memperdulikan agama orang. So, artinya ini apa ? … Jawab: Artinya bahwa mereka itu hanyalah simbol dari diri kita sendiri yg lebih tinggi. Kalau kita mau ikhlas dan pasrah, maka diri kita sendiri yg lebih tinggi (higher self) bisa memunculkan images dari orang-orang suci itu. Orang-orang suci itu (Buddha, Yesus, Kuan Im,… bahkan Ganesha who is setengah orang/setengah gajah) akan muncul di Kesadaran / Consciousness di diri kita ketika kita lelap dalam tidur. Mereka muncul di mimpi dan mengatakan sesuatu yg bisa diartikan. Yg berkomunikasi itu adalah diri kita sendiri (Alam Bawah Sadar) dengan diri kita sendiri juga (Alam Sadar). Jadi, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah kita yg berkomunikasi dengan kita juga.
Segala Allah, Yesus, Buddha, Ganesha, bahkan Semar dan Kanjeng Ratu Kidul merupakan manifestasi dari roh yg satu. Roh yg satu itu hidup di dalam kesadaran di diri anda, di diri saya, dan di diri siapa saja. Roh itu muncul dalam bentuk simbol yg bisa berbeda tergantung belief system orangnya masing-masing; tetapi memang lama-kelamaan akhirnya segala simbol itu akan berbaur. Yesus bisa muncul dimana-mana, Buddha juga, dan itu tanpa memperdulikan orangnya beragama apa. Artinya itu apa ? … Jawab: Artinya adalah fakta bahwa aslinya manusia itu tidak beragama. Alam Bawah Sadar di diri manusia itu tahu bahwa segala agama-agama itu Cuma buatan saja, very artificial, dan yg asli itu adalah simbol. Simbol itu mengajarkan kita untuk ikhlas dan pasrah, untuk menjadi diri sendiri saja, dan simbolnya itu bisa mengambil bentuk dari figur-figur yg berasal dari tradisi atau agama apapun. Agama “resmi” yg kita anut tidak akan menjadi masalah. Cuma ada di KTP doang, dan tidak terdaftar di alam roh dimana segalanya itu satu.

Tetapi kalau kita itu penuh dengan ketakutan, maka akan muncul berbagai jenis hantu. Para leluhur di Jawa yg sudah “ditaklukkan” ketika Islam masuk akhirnya menjadi “dhemit”. Dewa Dewi di Eropa Kuno akhirnya menjadi “ghosts” (hantu). Dan segala pocong-pocongan dan semacamnya itu bisa muncul di kesadaran kita ketika kita ketakutan. Jadi, solusinya itu apa ? …
Jawab: Please don’t be afraid ! … Kalau mau menggunakan doa, ya gunakanlah, tapi jangan takut. Anda itu tidak akan lari kemana-mana. Kalau anda melihat dewa dewi atau para malaikat, maka mereka hanyalah proyeksi dari kesadaran di diri anda. Kalau anda melihat hantu-hantu, mereka juga hanyalah proyeksi dari kesadaran anda. Yg mutlak atau absoluti itu adalah Kesadaran / Consciousness di diri anda, dan bukan segala ajaran-ajaran agama yg mengharamkan dan menghalalkan segala macam seeenak udelnya itu. So, saya selalu menyarankan teman-teman untuk menjadi diri sendiri saja. Kalau ternyata sudah eling dan merasa selama ini dibodohi oleh agamanya, tinggalkan sajalah agama itu. Daripada anda menjadi paranoid dan memaki tidak keruan ketika orang-orang lain yg sudah tersadarkan melihat anda semakin lama semakin aneh karena “berpegang erat” pada ajaran-ajaran agama yg sudah tidak lagi relevan, mendingan ditinggalkan sajalah agama itu. Manusia itu roh, dan tetap akan sebagai roh baik kita berada di tubuh fisik maupun tidak. Ya, segala simbol yg muncul di diri kita merupakan proyeksi dari kesadaran di diri kita juga, enjoy aja !
Sumber : salah satu e-book karya Leonardo R.

10 Jul 2014

Kabalah



 Kabalah bukan hukum-hukum, melainkan prinsip-prinsip pergerakan universal. Ada pokok-pokok Kabalah, tetapi pemahaman tiap orang tidak sama. Harus dijalani sendiri, dan dipraktekkan dalam laboratorium kehidupan, yaitu hidup manusianya sendiri. Berdasarkan prinsip Kabalah, tidak ada yg namanya atheisme. Yg ada cuma pergerakan. Teori-teori yg dikembangkan oleh orang Yahudi. Teori ilmu pengetahuan, filsafat, ideologi, sistem keuangan, dan bahkan facebook ini, semuanya dibuat mengikuti prinsip Kabalah.
Kabalah adalah ajaran tersembunyi di dalam agama samawi tertua. Sampai sekarang rahasianya belum terbuka. Selain sulit dipahami, dibutuhkan ketekunan puluhan tahun untuk mendalaminya.
Yg orang tidak tahu, Kabalah asalnya dari Jawa. Tepatnya wilayah Jakarta. Disini disebut Kebelah, yg artinya terbelah. Ada kiri ada kanan. Ada atas ada bawah. Ada luar ada dalam. Keduanya harus ada. Masuk jaman Orde Baru, istilahnya menjadi Kabelah. Maksudnya KB, keluarga berencana. Kalau keluarga tak terencana, jadi runyam. Kalau terencana, masih ada faktor X. Masih harus kebelah. Kebelah dan membelah. Begitu tak habis-habisnya. Makanya dipelajari terus oleh orang Yahudi dan praktisi spiritual kaliber internasional. Mereka tidak tahu laboratorium sekaligus asal muasalnya ada di Indonesia. Disini disebut kebelah. Terbelah.
Terpotong. Terkorupsi. Penangkalnya juga ada di Indonesia, namanya Kebalah. Lebih umum dituliskan Keballah. Kebelah dan keballah. Feminin dan maskulin. Yin dan yang. Ping dan pong.

T = Beberapa bulan terakhir ini saya selalu mengalami hal-hal yg menurut saya sial, kenapa ya?
Saya pernah melihat sosok orang tua berbaju serba putih saat memejamkan mata. Siapa itu?
J = Anda melihat simbol diri anda sendiri yg kurang terlalu menyukai dunia ini dengan alasannya sendiri. Karena dia kurang suka, anda merasakan kesialan. Gejala seperti itu bisa dibalikkan dengan cukup mudah apabila anda mau menggunakan kembali hal-hal yg sudah anda singkirkan. Dulu pernah pakai apa? Sekarang pakai lagi yg dulu itu, sampai gejala kesialan menghilang dari hidup anda.
Anda terpengaruh oleh alam bawah sadar anda yg sudah terprogram tentang benar dan salah.
Kalau alam bawah sadar anda bilang benar, maka anda merasa beruntung. Kalau alam bawah sadar anda bilang tidak benar, anda merasa sial. Yg orang tidak tahu, bahkan alam bawah sadar diprogram dari alam sadar. Kalau anda mau hidup biasa saja dan menikmati, tanpa disiksa oleh figur dari alam bawah sadar anda, maka anda harus melakukan sesuatu yg menyatakan bahwa sekarang anda bebas, dan tidak tergantung dari figur itu lagi.
Jelasnya, saya sarankan anda untuk buang kepercayaan yg membuat anda merasa sial. Kalau anda sudah tidak percaya, tunjukkan secara fisik anda tidak percaya. Maka kesialan akan hilang dari hidup anda. Kalau anda setengah-setengah, kesialan akan semakin bertambah sampai anda lepas segala-galanya. Akhirnya mau tidak mau anda lepaskan, tidak ada cara lain lagi.
Anda berubah dulu, terserah berubahnya bagaimana, lalu perhatikanlah. Orang-orang pasti akan berubah menghadapi anda. Kalau anda berubah, mereka berubah. Kalau anda tidak berubah, mereka tetap akan seperti itu. Begitu prinsipnya. Anda harus berubah menjadi orang yg lain sama sekali. Bukan anda yg sekarang, bukan anda yg dulu. Bukan menjadi seperti orang yg anda kenal. Pola berpikir dan tingkah laku tidak terhitung. Tinggal pilih saja. Bisa eksperimen juga.
Lihat yg mana yg paling efektif.
Anda harus menjadi diri anda sendiri. Tapi diri anda yg seperti apa? Kalau anda bahagia dengan diri anda yg sekarang, teruskanlah. Kalau tidak bahagia, berubahlah. Kalau tidak mau berubah, resikonya tanggung sendiri. Beban atau konsekwensi dari pilihan apapun selalu ditanggung oleh diri kita sendiri. Kalau merasa terlalu berat, maka kita bisa berubah. Bukan menjadi manusia palsu, tetapi semakin menjadi diri sendiri. Semakin lama semakin menjadi diri sendiri yg asli. Itu juga kalau mau. Kalau tidak mau berubah tidak ada yg paksa.
Dasarnya kita semua roh, tidak mempunyai jasad fisik. Jasad fisik ini simbol saja. Kalau gelombang otak kita aktif, maka gambaran kita bisa diproyeksikan ke tempat lain, baik secara sadar maupun tidak. Dan mereka yg berfrekwensi gelombang otak sama akan bisa melihat.
Melihatnya di dalam pikiran mereka saja, secara fisik tidak ada. Yg ada secara fisik juga bisa diberikan arti baru. Saya bisa bilang:
"Ikat pinggang saya yg terbuat dari kulit dinosaurus asli baru saja putus. Saya beli tahun 1993 di AS ketika saya masuk sekolah sihir. Menurut dawuh harus dipakai terus untuk memutus kutuk
Lord Voldermort. Ternyata dibutuhkan waktu 20 tahun."
Teknik yg ini namanya memberikan makna baru kepada kejadian yg sudah lalu. Sudah terjadi, tinggal diberikan arti. Anda juga bisa, coba saja.
Teknik menciptakan realita dari fakta fisik. Realita adanya di dalam pikiran. Dimensi pikiran.
Kita bahkan bisa membalikkan realita ketika kita memberikan makna baru kepada fakta fisik.
Fakta fisik sama, realita berubah. Sekali lagi, coba saja.
Coba-mencoba adalah kemampuan Yahudi. Kalau anda suka mencoba, artinya anda punya darah Yahudi, setidaknya lewat kakek dan nenek moyang kita yg namanya Adam dan Hawa.
Diasumsikan ada Adam dan ada Hawa. Lelaki dan Perempuan asal. Apa benar ada demikian tentu saja soal lain. Yg penting diasumsikan ada. Dan berdasarkan itu, dibuatlah prinsip-prinsip Kabalah, ajaran esoterik Yahudi yg tidak lain dan tidak bukan merupakan perkawinan antara mistisisme Timur Tengah dan filsafat Yunani.
Kabalah punya titik-titik pusat yg disebut sepiroth. Bahasa Inggrisnya sphere atau lingkaran. Ada 10 sephira (plural dari sepiroth). Antara lain yg bernama Kether dan Tipereth. Kether letaknya di kepala, dan Tipereth letaknya di pusar. Itu kalau kita letakkan lingkaran-lingkaran ini di tubuh fisik kita.
Di antara Kether dan Tiphereth ada yg namanya Daath. Sephiroth atau Sphere yg tersembunyi, dan tidak pernah digambarkan. Menurut saya, Daath adalah cakra tenggorokan. Dengan kata lain, komunikasi verbal, bidang yg paling tidak bisa dikuasai oleh praktisi spiritual. Bisa dibilang shadow karena belum dijalani. Kalau sudah dijalani seperti anda, saya dan beberapa teman, namanya bukan Daath lagi tapi Dool.
Sepiroth bisa dianggap nyata, bisa juga dianggap bayangan atau shadow.
Konsep Shadow digunakan oleh Carl Gustav Jung, maksudnya alter ego. The hidden self. Teknik konseling tiap praktisi berbeda. Teknik saya dengan guyon-guyon, untuk memunculkan the hidden self. Kalau sudah muncul, dan diinkorporasikan ke dalam kesadaran melek, maka spiritualitas akan meningkat. Dari bayang-bayang menjadi nyata. Semu menjadi asli. Tadinya diragukan, sekarang dipercaya. Kalau sudah dipercaya akan menjadi whole self. Diri yg lengkap.
Kurang lebih begitu pengertiannya. Yg esoterik sebenarnya di bawah matahari terik. Jelas sekali.
Contoh lain, Borobudur adalah buku terbuka dalam bentuk batu. Anda bahkan bisa langsung tahu titik cakra pusat meditasi yg diajarkan. Tidak pernah diucapkan, memang. Diperuntukkan bagi anda yg bisa melihat dan mengerti. Bukan untuk yg melihat dan tidak mengerti. Anda perhatikan setiap stupa besar dan kecil yg ada di Borobudur. Stupa adalah simbol tubuh anda ketika duduk meditasi. Stupa juga simbol dari kepala anda. Lalu anda bayangkan anda menjadi stupa itu. Tubuh anda adalah stupa. Kepala anda adalah stupa. Apa yg anda rasakan? Titik focus mana yg muncul di depan kesadaran anda? Gunakanlah itu. Itu titik fokus meditasi mata ketiga.
Menemukannya bisa lewat buku, bisa lewat garuk-garuk sendiri atawa otonomus. Autonomous.
Auto-isme. Autisme.
Sedikit banyak kita mengidap autisme, kalau tidak autis anda tidak bisa konsentrasi. Sebagian besar dari kita bisa menghadapi hal ini seorang diri, tanpa ada orang lain yg tahu. Orang tua tidak tahu, guru-guru tidak tahu, teman-teman tidak tahu. Saya termasuk seperti itu, dan mendorong anda yg mengalami sedikit gejala autisme untuk tidak cengeng. Kalau mau fokus pasti bisa.
Autisme ringan cukup normal, tidak perlu dijadikan alasan menjadi lebay. Kalau mau sedikit bersusah payah pasti bisa. Singkirkan mereka yg mau membuyarkan konsentrasi anda, dan tetaplah fokus, di bidang apapun yg anda pilih.
Jangan anda pikir saya kemana-mana membagikan pencerahan kepada banyak orang tanpa diminta. Tidak begitu. Pencerahan tidak bisa datang dari saya tetapi dari alam semesta yg memberikan hidayahnya langsung kepada manusia yg, kalau sinkron, akan bertemu dengan saya.
Pertahankan keutuhan energi anda, kita mencari dan mempertahankannya dengan susah payah.
Bukan untuk dihambur-hamburkan dan mubazir dengan alasan memberikan pencerahan. Kita bukan lampu senter, ingat itu.
Ini saya tuliskan untuk membantu cukup banyak teman yg tidak punya energi karena memaksakan diri untuk memberikan pencerahan. Anda tahu apa yg saya maksud. Energi anda habis dihambur-hamburkan karena anda merasa berkewajiban. Nyatanya, tidak ada yg mewajibkan anda. Aturan alam semesta adalah pertahankan titik keseimbangan anda. Kalau anda seimbang, energi anda akan stabil. Anda akan merasa utuh. Dan keutuhan anda akan dirasakan sebagai kekuatan energi oleh orang lain. Itulah yg bisa membantu orang. Bahkan walaupun anda diam saja. Kalau energi anda sudah kosong, walaupun diakui sebagai orang spiritual, anda tidak bisa membantu siapapun. Membantu diri sendiripun anda tidak sanggup.

(e-book)

Tasawuf, Gnostic, shamanism



Tasawuf yg asli itu Stoicism juga. Orang-orang stoics adalah pengikut filsafat Yunani yg berpikir rasional dan apa adanya saja. Itu ajaran filsafat dan spiritual yg lebih mendekati kebenaran karena tidak bergelimang dalam imajinasi. Yg serupa dengan stoicism masuk ke Kristen dalam bentuk aliran-aliran Gnostic. Dan di Islam secara umum disebut aliran Sufi.
Kalau kita mau merubah sesuatu yg ada secara fisik, kita cuma bisa melakukannya kalau kita merubah yg ada di alam "astral" itu yg tidak lain dan tidak bukan merupakan pikiran kita sendiri... Terkadang pikiran orang sudah begitu kakunya sehingga tidak bisa digerakkan secara rasional lagi. Nah, dalam hal ini segala macam praktek shamanism itu mungkin bisa berhasil yg, sebenarnya, juga ditentukan oleh hubungan antara si shaman dengan pasiennya itu.
Kalau si shaman dan pasiennya itu memiliki Belief System yg sama, maka ada kemungkinan segala macam healings yg dilakukan akan bisa membawa hasil. Kalau belief system antara si shaman dan pasien-nya itu beda jauh, maka tidak akan terjadi apapun dan, dalam hal ini, kita bilang bahwa si shaman itu cuma mengada-ada saja which is actually true.
Perdukunan itu shamanism. Jadi kadang-kadang bisa ada hasilnya kalau apa yg dipercayai oleh si dukun dan pasiennya itu memang nyambung. Kalau tidak nyambung maka jadinya nonsense doang.
Shaman itu seorang traditional healer. Di Indonesia umumnya disebut "dukun". Ada dukun tradisional yg bisa melakukan pengobatan melalui cara masuk ke dalam Alam Bawah Sadar di dirinya sendiri dan Alam Bawah Sadar di diri pasiennya. Tetapi hal itu cuma bisa dilakukan kalau belief system antara si dukun dan si pasien itu sama. Yg namanya "paranormal" sekarang bukan shaman melainkan kebanyakan tukang tipu doang. Shaman is dukun tradisional yg memang mempunya missi untuk membantu sesama.
Shamanistic journey, yaitu: perjalanan si shaman ke dalam Alam Bawah Sadar di dalam dirinya sendiri... Dengan kata lain, journey ke dalam pikiran atau mind yg ada di diri si shaman itu sendiri. Bisa juga dikatakan bahwa si shaman itu "masuk" ke dalam alam pikiran dari orang yg dibantunya, pedahal sebenarnya si shaman itu cuma masuk ke dalam pikiran di dirinya sendiri. Cara melakukannya ketika sedang "trance" yg bisa di-induce dengan cara puasa dan tidak tidur selama berhari-hari. It's only a technique, though.
T = How 'real' is a shamanistic journey?
J = It could be very real untuk orang yg mengalaminya. Untuk si shaman itu sendiri, the journeys he or she takes to the "underworld" (Alam Bawah Sadar) are very real. Tapi itu cuma di alam pikiran saja dan isinya simbol belaka yg harus dimanipulasi oleh si shaman untuk membantu menyembuhkan pasiennya di dunia fisik.
T = Saya pernah 'journey' into my mind, waktu sambil nge-ganja. theoretically speaking dan lepas dari stigma sosial, ganja is feminine dan ngebantu saya lebih santai n let go, dan di waktu yang sama ngebawa otak ke alpha brainwave which is said to ngelancarin imajinasi n stuff.
'journey' saya ini ngebawa saya sampe ke tahap dmn saya bisa komunikasi sama sesuatu/seseorang, dan jawaban-jawabannya dia tuh masuk di akal n wise (saya coba nanyananya ke si penjawab ini ttg advice dsb, mau tau ini nih beneran ato imajinasi). Maybe is it my higher self? Saya juga nyoba ngirim-ngirim message lewat telepathy (eksperimen) , was I being delusional?
J = Kalau pakai ganja and things like that, memang bisa masuk ke dalam pikiran kita sendiri.
Kalau ternyata bertemu dengan "seseorang", maka so pasti itu cuma imajinasi saja... Seseorang yg muncul itu cuma simbol. Kita bisa bilang bahwa itu "higher self" dari diri kita sendiri. Bisa juga bilang bahwa kita berkomunikasi dengan diri kita sendiri yg tidak fokus di dunia fisik melainkan di dunia Bawah Sadar sehingga terkadang advisnya juga gimana gituh. Terkadang masuk akal dan terkadang tidak masuk akal juga. So, we ought to be very careful here.
T = Waktu itu sih berasanya nyata sekali, soalnya saya ngelakuin semuanya secara intuitif aja, dan 'belajar' bbrp hal dari dapet insights, slh satu contohnya yaitu bahwa orang kalo nyembuhin tumpang tangan di atas kepala itu sebenernya nyembuhin dgn cara ngerekonfigurasi susunan energi kita lewat crown chakra. again, apakah saya cuma ngimajinasiin aja? atau insight yang saya dapet ini bener? soalnya saya mau tau apakah semua ini real ato ngga dan saya butuh second opinion..
J = Well, insights semacam itu bisa dibilang sebagai intuisi juga dan tidak ada istilah benar ataupun salah. Apa bedanya bilang tumpang tangan itu rekonfigurasi energi lewat cakra mahkota atau cuma permainan pikiran saja ? ... Saya sendiri bilang bahwa tanpa tumpang tangan pun kita bisa melakukan penyembuhan karena segalanya ada di dalam pikiran. Kalau kita niatkan sehat, maka bisa sehatlah orangnya... walaupun perlu juga ada konfirmasi dari orangnya sendiri.
Orangnya itu mau atau tidak untuk disembuhkan. Kalau orangnya tidak mau disembuhkan, apapun yg kita lakukan tidak akan membawa hasil.
T = Apa opini Mas Leo tentang entheogens/ so called 'divine plants' e.g. ganja? Saya sering research tentang hal ini n opini orang-orang semuanya 50-50. Ada yang bilang aman dan emang bs digunakan sebagai fasilitator dan katalistator walopun sebenarnya unnecessary, ada yg bilang juga bahaya buat astral body kita, katanya bikin lobang-lobang di aura.. what do you think?
J = Well, in my opinion the ganja cuma ok buat recreational drugs doang. Shamans jaman dulu dan jaman sekarang juga memang ada yg menggunakan ganja and similar plants supaya bisa "high" dalam membantu pasiennya. Tetapi sebenarnya tanpa menggunakan itupun kita tetap bisa melakukan healings, kalau mau. Saya sendiri merasa bahwa ganja is somewhat dangerous karena bikin tulalit. Tulalit, tulalit... maksudnya nggak nyambung. Jadi, kalau kita pake ganja, jalur memory seperti melambat dan terkadang ada memory yg hilang sehingga truly nggak nyambung alias tulalit. Kalo keseringan dipake sampe bertahun-tahun maybe orangnya akan bisa mengalami permanent head damage alias tulalit for the rest of his or her life.

(e-book)